PENDIDIK HARUS TERDIDIK

Bisnis On Line Tanpa Modal

Cari Blog Ini

Senin, 01 April 2013

Sejarah Sekolah


Sejarah Sekolah

Mendengar kata “sekolah”, pada umumnya seseorang akan membayangkan suatu tempat dimana orang-orang melewatkan sebagian dari masa hidupnya untuk belajar atau mengkaji sesuatu.
Kata itu pada umumnya diacukan pada suatu system, lembaga, suatu organisasi besar, dengan segenap kelengkapan perangkatnya: sejumlah orang yang belajar dan atau mengajar, sekawanan bangunan gedung, secakupan peralatan, serangkaian kegiatan terjadwal, selingkupan aturan, dan sebagainya, dan seterusnya.
Padahal dalam bahasa aslinya, yakni kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin), kata itu secara harfiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Nah, apa dulunya tak terjadi kekeliruan pada si Jan atau Jack, yang menyebu kata itu dalam bahasa ibu mereka dengan ejaan school, yakni asal mula kata sekolah dalam bahasa kita sekarang ?
Sebenarnya, tak ada yang keliru. Pangkal perkaranya bisa dilacak jauh ke belakang zaman yunani kuno, zaman dan tempat asal-muasal kata tersebut.
Alkisah orang yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan memperlajai hal-ikhawal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebuit kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae, atau schola. Keempatnya punya arti sama: “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar’.
Lama kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga pati masyarakat yunani kuno. Kebiasaan itu uga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka, terutama anak laki-laki, yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah. Karena desakn perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, sang ayah dan sang ibu merasa bahwa mereka pun tak lagi punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra putrinya. Karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat tertentu, biasanya adalah orang dan tempat dimana mereka juga dulunya pernah ber-skhole. Ditempat itulah anak-anak bisa bermain, brlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang mereka anggap memang patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali kerumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.
Maka, sejak saat itulah telah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pangasuhan ibu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua ummat manusia, menjadi scola in loco parentis ( lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa juga disebut “ibu asuh” atau “ibu yang memberikan ilmu” (almamater).
Waktu terus berlalu.para orang tua makin terbaisa saja mempercayakan pengasuhan putra-putri mereka kepada orange-orang atau lembaga-lembaga pengasuh pengganti mereka diluar rumah tersebut, dalam jangka waktu yang semakin lama dan dengan pola yang semakin teratur pula. Karena makin banyak anak yang harus diasuh, maka mulai pula diperlukan lebih banyak pengasuh yang bersedia meluangkan waktunya secara khusus untk mengasuh anak-anak di suaru tempat tertentu yang telah disediakan, dengan peraturan yang lebih tertib dan dengan imbalan jasa berupa upah dari para orang tua anak-anak itu.
Adalah seorang john amos Comenius, melalui mahakaryanya yang kemudian dianggap sebgai fons et origo nya ilmu pendidikan ( tepatnya: teori pengajaran), yakni kitab didactica magna, melontarkan gagasan pelembagaan pola dan proses pengasuhan anak-anak itu secara sisematis dan metodis, terutama karena kenyaaan memang adanya keragaman latarbelakang dan proses perkemangan anak-anak asuhan yang memerlukan penanganan khusus.
Melanjutkan tradisi Comenius, adalah seorang berkebangsaan swiss, john heinrich Pestalozzi, pada abad-18, tampil dengan gagasan yang lebih terinci. Orang ini melangkah lebih jauh dengan mengatur pengelompokan anak-anka asuhannya secara berjenjang, termasuk perjenjangan urutan kegiatan (kemudian disebut “pelajaran”) yang harus mereka lalui secara bertahap. Juga pengaturan tentang cara-cara mereka harus melalui pelajaran tersebut pada setiap tahap menurut batasan-batasan khas dan terbaku. Upaya yang kemudian dikenal dengan nama “sisem klasikal Pestalozzi” ini, akhirnya menjadi cikal bakal pola pengajaran sekolah-sekolah modern yang kita kenal sekarang dengan penjenjangan kelas dan tingkatannya.
Sebegitu jauh, skhole nya masyarakat yunani kuno pun menjadi suatu tradisi mendunia dengan berbagai keragaman bentuk pengembangan dan penyesuaiannya di berbagai tempat. Memang, orang-orang yunani kuno bukanlah bangsa pertama dan satu-satunya yang memulai tradisi sekolah. Konon, bahkan sebelum Socrates dan muridnya, plao, menyelenggarakan academia atau lyceum di Athena, bangsa cina purba kabarnya juga sudah memulainya pada 2000 tahun sebelum jesus lahir. Dan, konon, itulah lembaga sekolah tertua didunia yang pernah diketahui sampai saa ini. Juga, kaum Brahmin India sudah membangun sekolah-sekolah veda mereka setengah abad sesudahnya. Sejarah pun mencatat bahwa hamper semua bangsa di dunia ini sesungguhnya memiliki tradisi pola pengasuhan anak dan lembaga persekolahannya sendiri-sendiri, tentu saja dalam rangka bentuk, sifat dan sebutan yang berbeda-beda.
Pun, nenek moyang kita di nusantara memiliki tradisi serupa yang diwarisi dari tradisi anak benua India dan kemudian juga dari tradisi jazirah arab. Tetapi, untuk menjelaskan pengertian sekolah seperti yang kita kenal dan fahami dalam bentuknya yang umum saat ini, maka akar keberadaan dan alur kesejarahannya yang berpangkal pada zaman dan tradisi yunani kuno itulah yang mesti ditelusuri, yang kemudian kita warisi melalui tradisi sekolah-sekolah colonial, berkat kebijaksanaan “politik balas-budi: (etische politiek) kaum sosialis-humanis, belanda dan ingris, kala itu.
Ah, kalau begitu, mudah saja menerangkan bagaimana kiranya kata sekolah yang semula Cuma berarti pengisian waktu luang, kini bermakna dan mewujudkan diri sebagai suatu sistem kelembagaan pendidikan yang kadang kala dan celakanya sekaligus, diartikan sebagai wujud hakekat pendidikan itu sendiri. Kata itu mestinya memang difahami dalam konteks kesejarahannya sebagai bagian dari keseluruhan perkembangan peradaban umat manusia di mana lembaga itu mewujudkan diri.
Kesadaran kesejarahan kontekstual inilah yang teramat penting untuk memahami hakekat dinamika semua lembaga kemasyarakatan kita, termasuk lembaga sekolah; bagaimana sebenarnya ia mewujud pada saat ini, sebagai hasil dari suatu perjalanan panjang di masa lalu, dan kearah mana mestinya ia ditujukan untuk menghadapi masa depan yang sangat boleh jadi akan berbeda sama sekali.
Sebagai kesimpulan apakah kia sedang bergerak kea rah pendidikan yang diperluas dan menyusun rencana dengan gagasan bahwa perkembangan individu adalah suatu praxis, ataukah kita justru sedang menuju kea rah scolae dalam arti kata yang sebenarnya?

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar