PENDIDIK HARUS TERDIDIK

Bisnis On Line Tanpa Modal

Cari Blog Ini

Rabu, 12 Juni 2013

ARTI SEBUAH KEKUASAAN



Kekuasaan Adalah Amanah


إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا



“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. an-Nisaa: 58).

            Konsep kepemimpinan dalam Islam adalah konsep kepemimpinan yang khas (qiyadah mu’ayyanah). Ketika ajaran atau ideologi yang lain menekankan kepemimpinan untuk menguasai orang lain, bahkan menipu orang lain agar berkuasa, Islam justru mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang amat berat.
            Salah satu ajaran kekuasaan dan kepemimpinan yang merusak adalah yang diajarkan Niccolo Machiavelli. Dalam buku politiknya yang berjudul The Prince mengajarkan kepada dunia bahwa untuk berkuasa orang boleh mempergunakan/menghalalkan segala cara. Kemudian untuk mempertahankan kekuasaan maka orang bisa melakukan politik adu domba untuk melemahkan musuh-musuh mereka.
            Penguasa dalam sistem politik selain Islam juga menempatkan diri mereka sebagai pihak yang harus mendapatkan pelayanan terbaik dari masyarakat. Ini bisa dilihat dari gaya hidup mereka dan penghasilan serta beragam tunjangan yang mereka dapatkan selaku penguasa. Hal ini bukan saja terjadi dalam sistem kerajaan tapi dalam sistem demokrasi  yang dikatakan sebagai ‘pemerintahan rakyat’ pun menjadikan penguasa sebagai pihak yang harus dilayani oleh publik. Para penguasanya hidup di menara gading sedangkan rakyatnya hidup menderita. Itulah sebabnya orang berlolba-lomba ingin menjadi penguasa.
            Sementara Islam menempatkan kepemimpinan sebagai amanah, perkara berat yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Demikian beratnya sampai-sampai alam semesta menolak tawaran amanah ini.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”(QS. al-Ahzab: 72).
            Jika alam saja menolak tawaran amanah, maka bagaimana manusia bisa demikian bernafsu untuk mendapatkan kekuasaan? Sedangkan Allah pun menyatakan bahwa manusia itu ‘amat zalim dan bodoh’.
Nabi saw. mengingatkan kaum muslimin agar berhati-hati terhadap  amanah kekuasaan ini. Beliau berpesan kepada Abu Dzar ra. dan kaum muslimin:
يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
“Wahai Abu Dzar sesungguhnya engkau orang yang, dan bahwasanya ia adalah amanah. Dan pada Hari Kiamat ia akan datang sebagai kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang mengambilnya sesuai dengan haknya dan melaksanakan apa yang menjadi tuntutannya.”(HR. Muslim)

            Dengan pandangan dan dasar yang sangat khas lagi luar biasa ini, kepemimpinan selayaknya tidak menjadi rebutan. Penguasa juga merasa takut bila mereka hidup bermegah-megahan sementara rakyat mereka menderita. Mereka akan takut karena akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Dengan ketakutan yang datang dari rasa takwa, mereka akan menjalankan amanah kepemimpinan ini dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab.
Selain itu harus berada di tangan orang-orang beriman yang memiliki sifat adil. Di mana kekuasaan akan dijalankan untuk melaksanakan dan menegakkan hukum Allah, bukan melaksanakan hawa nafus manusia meski itu mengatasnamakan aspirasi rakyat atau hak asasi manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar