Kamis, 17 Januari 2013

KTI Pengaruh Dampak Televisi Terhadap Anak-Anak



A.          Pengertian Teknologi 
Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia pada zaman dulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi, yaitu teknologi sederhana.
Terkait dengan teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan masalah. Ahli lain, Kast & Rosenweig menyatakan Technology is the art of utilizing scientific knowledge. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang definisi teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia.
Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi belum digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne “ atau cara dan “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra dan otak manusia.
Sedangkan menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv) memberi arti teknologi sebagai” keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.
Dari apa yang dipaparkan diatas teknologi dapat diartikan sebagai sarana pemenuhan kebutuhan manusia dalam mencapai keseimbangan kebutuhan hidup guna menelaah kehidupan yang akan datang untuk mencapai masyarakat yang modern.

B.     Televisi Merupakan Salah satu Wadah Teknologi
1.      Pengertian Televisi
Televisi berasal dari kata sangsekerta yaitu “ visi “ yang artinya impian atau harapan untuk mencapai suatu tujuan. Berangkat dari sebuah pengertian visi, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa televisi  memiliki tujuan bagaimana mampu menarik peminat yang mengalami secara sadar untuk ikut menikmati dari apa yang menjadi seuah tujuan.    Televise sudah menjadi amanah atau tuntutan untuk melayani segala kebutuhan informasi yang diinginkan masyarakat.  Jadi televise adalah suatu wadah atau sarana penyampaian informasi atau pemberian pelayanan kepada pablik.
 Pada zaman sekarang ini, televisi merupakan media elektronik yang mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya ketagihan untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kesehariannya dan sudah menjadi agenda wajib bagi sebagian besar anak. Pemilik pesawat tinggal menggunakan antenna parabola guna menangkap siaran dari Negara mana yang diinginkan.

2.      Dampak Positif  Televisi bagi Anak-anak
Banyak hal yang perlu dipahami bahwa sebagaimana halnya televise memiliki keunggulan yang mampu memikat hati masyarakat secara fundamental. Adapun kegunaan televesi terhadap anak-anak yaitu sebagai berikut :
a.       Televisi mampu menembus segala lini aspek kehidupan anak-anak sehingga televise mampu menjawab segala kebutuhan anak-anak.
b.      Televisi menyediakan segala macam informasi  sehingga dapat memudahkan anak-anak  untuk menjangkau apa yang menjadi dasar kebutuhannya.
c.       Televisi telah menjadi panggung seni dan fisikoterapi dalam kehidupan masyarakat sehingga anak-anak mampu terhibur dengan keajaiban yang diberikan oleh televise.
d.      Televise dapat menjadi bahan pembelajaran bagi bagi anak-anak.
e.       Televisi idealnya bisa menjadi sarana mendapatkan informasi yang mendidik dan bisameningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun, kenyataannya, saat ini harapan itusangat jauh. Televisi kita terutama stasiun televisi swasta, mereka lebih banyak menampilkan acara hiburan, maupun sinetron-sinetron yang menawarkan nilai-nilai gayahidup bebas, hedonis. Begitu juga beragam tayangan infotainment yang kadang menayangkan acara perselingkuhan, sex bebas di kalangan artis. Dengan demikian, kisah pergaulan bebas bukan menjadi hal yang tabu lagi. Makanya, tak ada langkah yang lebih manjur selainmengurangi menonton televisi ini karena lambat laun otak akan teracuni oleh nilai-nilaiyang sebenarnya sangat negatif.Untuk mendapatkan informasi, kalangan muda bisa mengalihkan perhatian denganmembaca koran, majalah maupun buku-buku.
f.       Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak positif dengan semakin terbuka dan tersebarnya informasi dan pengetahuan dari dan ke seluruh dunia menembus batas ruang dan waktu.

3.      Dampak Negatif Televisi
Dalam acara televise anak biasanya memperhatikan bukan hanya apa yang diucapkan orang ditelevisi,bahkan bagaimana cara mengucapkannya. Dari sini anak secara bertahap dapat meningkatkan kemampuan pelapalan pada tatabahasa. Tentunya semua ini belum pasti memberi pola yang baik dalam pengungkapan hal-hal yang dikatakan anak. Cara berbicara  ini biasanya disertai dengan pola gerak tubuh. Bagaimana cara  menggerakkan anggota tubuh ketika mengucapkan kata-kata  tertentu, bagaimana agar orang bisa lebih yakin dan percaya,semua ini didapatkan anak di layar televisi. Dengan demikian, anakakan semakin menghargai televisi, ketika dalam pengalamanhidupnya sehari-hari tidak ia dapatkan hal yang serupa itu. Action dan gaya bicara seperti ini biasa didapatkan pada acara-acaraseperti drama maupun film.
Hal itu nampak, bahwa dalam kolektivitasnya, anak-anak sering membentuk permainan pura-pura. Jenis permainan ini dapat bersifat refroduktif dan produktif yang bentuknya sering disebutkreatif. Dalam permainan drama yang reproduktif, anak-anakberusaha memproduksi situasi yang dilihatnya baik dari kehidupannyata maupun media massa kedalam permainannya. Sedangkandalam permainan produktif, anak-anak menggunakan situasi,tindakan dan bicara dari situasi kehidupan nyata kedalam bentukbaru dan berbeda. Dalam permainan drama ini, anak sering menirukarakter tokoh yang disukainya, baik yang ada dalam kehidupanatau pun dari media massa. Minat anak terhadap permainan dramaini akan berkurang seiring dengan meningkatnya realisme danmenurunnya kemampuan untuk menganggap hidup benda mati.Kalaupun permainan seperti ini jarang dilakukan, paling tidak anakakan meniru berbagai ucapan yang disukainya atau yang sukaikelompoknya (demi persahabatan).
Anak-anak seperti misalnya Coco Cranch, es krimWalls, Pop Mie ditampilkan dengan tokoh Joshua, Choki-choki , Better Biskuit, kacangMayasi dan lain sebagainya.Kebanyakan iklan untuk anak-anak saat ini, masih mengumpamakan produknyapada suatu kejadian (iklan Coco Cranch), suatu proses petualangan (iklan es krim Walls)ataupun cerita mengenai seorang pahlawan yang gagah yang kekuatannya diperolehdengan memakan atau memakai produk tersebut (iklan Nabisco), jika dihubungkandengan pengetahuan anak-anak yang masih terbatas dan bahwa anak lebih mampumemandang seperti apa adanya, dalam hal ini usia 3-5 tahun, maka disinyalir iklantersebut malahan sulit dicerna oleh anak-anak. Bila dilihat dari teori di atas, maka dapatdikatakan bahwa sebuah iklan yang to the point. 
Seperti tampilan idola anak Yosua yangmenampilkan kesukaannya pada kecap Indofood,ataupun Pop Mie membuat banyak anak tertarik untuk meniru idola tersebut karena pada usia tersebut anak cenderung untuk hanya meniru, padahal dalam proses belajar anak, kita tidak menghendaki anak-anak hanya mampu meniru. Akan tetapi bagaimana anak-anak mampu memahami apa yang mereka lakukan.
Robert  Coles Temuannya menunjukan bahwa pengaruh negatif tayangan televisi, justru terdapat pada keharmonisan di keluarga. Dalam temuannya, anak-anak yang mutu kehidupannya rendah sangat rawan terhadap pengaruh buruk televisi.  Sebaliknya keluarga yang memegang teguh nilai, etika, dan moral serta orangtua benar-benar menjadi panutan anaknya tidak rawan terhadap pengaruhtayangan negatif televisi.  Lebih lanjut Cole menunjukan bahwa mempermasalahkan kualitas tayangantelevisi tidak cukup tanpa mempertim-bangkan kualitas kehidupan keluarga. Ini berarti menciptakan keluarga yang harmonis jauh lebih penting ketimbangmenuduh tayangan televisi sebagai biangkerok meningkatnya perilaku negatif dikalangan anak dan remaja. Mungkin kita akan lebih yakin terhadap temuan Coles apabila mengkaji bagaimana proses pembentukan perilaku manusia. Pembentukan perilakudidasarkan pada stimulus yang diterima melalui pancaindra yang kemudiandiberi arti dan makna berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan keyakinanyang dimilikinya. Anak, sebagai individu yang masih labil dan mencari jati diri,sangat rentang dengan perilaku peniruan yang akhirnya akan terinternalisasi danmembentuk pada kepribadiannya.
 Tayangan televisi yang dilihatnya setiap saat masuk ke dalam otaknya. Bagianak yang berasal dari mutu kehidupan keluarganya baik, semua yang ia lihat dilayar televisi dapat disaring melalui suasana keluarga yang harmonis, dimanaorang tuanya bisa menjadi panutan. Komunikasi dan contoh orang tua dalam perilaku sehari-hari membuat benteng yang kokoh dalam membendung semua pengaruh buruk di layar televisi. Sebaliknya, anak yang berasal dari keluargayang mutu kehidupan keluarganya rendah, semua tayangan di televisi sulitdisaring, karena mereka belum bisa membedakan mana perilaku yang baik/buruk. Begitu pula dalam lingkungan keseharian di keluarganya tidak ditemukan sikap dan perilaku normatif yang dapat dijadikan filter tayangantelevisi.  Salah satu kegiatan yang bisa membantu proses pembinaan komunikasi antaraanak dan orang tua di dalam rumah adalah bercengkrama satu sama lain.  Bercengkrama dengan keluarga merupakan sesuatu yang mahal karena penelitian mengatakan bahwa 54% anak berusia 4-6 mengaku lebih senang menonton TV daripada bermain dengan ayahnya. Para orangtua juga mengaku bahwa mereka hanya menghabiskan sekitar 40 menit perhari untuk melakukan percakapan yang berarti dengan anaknya. Kedekatan dengan keluarga tidak bias dibeli. Jangan biarkan televisi mencuri lagi waktu untuk keluarga yang memangsudah tinggal sedikit sekali karena terpotong aktivitas sehari-hari.
 
BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Pendekatan dan Jenis Penelitian
1.      Pendekatan Dan Jenis penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya (Corbin dan Strauss, 2003) dan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Bogdan dan Taylor, 1993). Denzin dan Lincoln (Salam, 2006) mengemukakan bahwa kualitatif menekankan pada proses dan makna yang tidak diuji atau diukur dengan setepat-tepatnya, dalam istilah-istilah kuantitas, jumlah, intensitas, atau frekuensi. Penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang menghasilkan temuan-temuan yang tidak diperoleh oleh alat-alat statistik atau alat-alat kuantifikasi lainnya. Konsep tersebut menekankan bahwa penelitian kualitatif ditandai oleh penekanan pada penggunaan non-statistik khususnya dalam proses analisis data sehingga suatu temuan penelitian secara alamiah.


B.     Waktu  Dan Tempat Penelitian
1.      Waktu
Waktu diadakan penelitian ini adalah pada hari sabtu tanggal 21 November  2012
2.      Tempat
Tempat diadakan penelitian ini adalah berangkat dari sebuah inisiatif kedaerahan yang  kemudian dikembangkan oleh peneliti kepada setiap anak-anak yang mengalami pengaruh dampak televise.

C.    Populasi Dan Sampel
1.      Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto, bahwa populasi adalah :

KeseIuruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut populasi atau studi kasus

Berdasarkan pengertian tersebut, maka populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak yang mengalami dampak pengaruh televise.
2.      Sampel
Sutrisno hadi mengemukakan bahwa sampel adalah "sebagian dari populasi disebut sampel, se.jumlah penduduk jumiahnya kurang dari populasi". Oleh karena besarnya subjek dalam populasi, maka sampel dalam penelitian ini adalah anak-anak yang mengalami dampak pengaruh televise.

D.    Teknik Pengumpulan Data
Danim (2002) mengemukakan bahwa salah satu ciri penelitian kualitatif adalah manusia sebagai instrument penelitian dimana peneliti sebagai perencana, pelaksana, menganalisis data hingga laporan selesai. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a.       Wawancara
Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Bungin, 2001).
Wawancara mendalam (depth interview) adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti. Wawancara mendalam dilakukan secara intensif dan berulang-ulang. Wawancara mendalam menjadi alat utama yang dikombinasikan dengan observasi partisipasi (Bungin, 2001).
Lincoln dan Guba (Moleong, 2002) menyebutkan tujuan mengadakan wawancara adalah untuk mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain. Kebulatan; merekonstruksi kebulatan-kebulatan sebagai pengalaman masa lalu; memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai sesuatu yang diharapkan terjadi pada masa yang akan datang; memverifikasi, merubah dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi); dan memverifikasi, mengubah, serta memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota.
Peneliti dan subjek akan melakukan wawancara, dengan tujuan pengambilan data dari subjek. Wawancara yang dilakukan dirancang dalam bentuk informal, maksudnya setiap kata-kata dalam pertanyaan disesuaikan dengan subjek, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh subjek. Peneliti akan melakukan wawancara dengan subjek, teman dekat, dan orang tua (ibu) subjek penelitian. Wawancara bersifat semi struktur yaitu, topik pertanyaan sudah ditentukan dan rumusan pertanyaan tergantung dari peneliti.
Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana subjek terhadap pengaruh dampak televise bagi anak-anak
b.      Observasi
Danim (2002) menjelaskan bahwa observasi adalah teknik yang paling lazim dalam penelitian kualitatif, dimana teknik ini memerlukan pengamatan secara cermat terhadap perilaku subjek, baik dalam suasana formal ataupun santai.
Dalam penelitian ini, observasi yang digunakan adalah teknik observasi secara terbuka karena pengamat diketahui dan disadari keberadaannya oleh subjek dan subjek dengan sukarela memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati peristiwa yang terjadi. Pengamat akan menyusun catatan lapangan yakni dengan menulis apa yang di dengar, dilihat, dipikirkan, dan dialami selama proses pengumpulan data dengan mencantumkan tanggal, waktu, serta menyertakan informasi dasar seperti setting fisik lingkungan, interaksi sosial dan aktivitas yang sedang berlangsung.

c.       Dokumentasi
Instrumen dokumentasi yang digunakan adalah model checklist dan dokumentasi tertulis. Model checklist dimaksudkan untuk merekap data

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

















Google+ Followers



SAHABATKU

Copyright © 2012. ASMI - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Bamz