PENDIDIK HARUS TERDIDIK

Bisnis On Line Tanpa Modal

Cari Blog Ini

Rabu, 29 Mei 2013

Hijrah vs Menyerah



Hijrah vs Menyerah
Tak ada perjuangan seberat hijrah dan tak ada pengorbanan setulus hijrah. Siapa pun punya hak untuk mengajukan bukti, ada hijrah lain yang menandingi kesakralan hijrah atas nama Tuhan, asal jangan benturkan dia dengan jihad, karena keduanya memang tak bisa dipertentangkan. Yang satu lahir dari kandungan yang lain. Jihad yang lahir dari jiwa hijrah masih memberi ‘ruang’ bagi pembalasan, pelampiasan, dan kemurkaan karena Allah –sementara hijrah telah ‘membiarkan’ orang-orang terhormat meninggalkan tanah air dan kecintaan mereka serta bersabar atas cibiran khalayak. Mereka lepaskan kecintaan kepada tanah air, pergi jauh dalam keterasingan. Tak dapat dinafikan nilai ‘hijrah’ orang-orang Irlandia, Spanyol, dan Eropa lainnya mendatangi benua baru, Amerika. Seperti juga yang mereka lakukan ke Australia. Tetapi siapa mau dibohongi tentang punahnya bangsa Indian, Maori, dan Aborigin. Penderitaan mereka masih panjang dan masa depan mereka masih remang-remang.

Batu Ujian
Tidak usah menginterogasi orang Madinah atau keturunan mereka, apakah mereka menyetujui telah membela, melayani dan mencintai saudara-saudara Muhajirin mereka. Berbinar wajah mereka menyambut peziarah ke Madinah yang bercahaya itu. Benarlah pesan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Di setiap rumah Anshar ada kebaikan.” Jadi tidak ada yang mengherankan bila perang Fathu Makkah itu tanpa insiden mabuk kemenangan atau tumpahan dendam. Derita hijrah adalah konsekuensi iman. Semua pedih sudah terbayar dengan keramahan, kecintaan dan pembelaan saudara-saudara Anshar serta cinta Rasul yang teramat dalam.
Wahai ahli Thaibah, beruntung sangat Anda
Dapatkan dia yang saruwa alam tak berdaya, mendekat, dan mengkhidmatinya.
Namun tentu saja luapan cinta ini tidak menafikan hak untuk beruntung dan berbahagia menjadi pengikutnya. Yang luput dari melihat Al Mukhtar, Rasul pilihan silakan melihat Sunnah yang besar dan Al Qur’an yang ia wariskan.
Silakan tanya apakah orang-orang Anshar akan mengajukan resolusi ke PBB atas hilangnya ‘hak kepemimpinan’  Abdullah bin Ubay bin Salul yang asli Arab Madinah, kandidat pemimpin tertinggi Yatsrib dengan penampilan dan tutur kata yang menjadikannya pantas memimpin. Sayang jiwa ringkihnya meleleh dalam gesekan yang tak disadarinya dan hasad kepada sang Nabi akhir zaman.
Atau Huyai bin Al Ahthab, Ka’ab bin Al Asyraf, dan Lubaid Al Asham sang penyihir, tokoh-tokoh Yahudi yang akhirnya kehilangan peluang emas lantaran tidak cerdas seperti saudara mereka Abdullah bin Salam yang menerima risalah cahaya ini dengan hati yang bahagia.

“Wahjurhum Hajran Jamila”
Bila seorang Muslim membaca Al Qur’an Allah memasang tabir (hijaban mastura) atau yang membatasi mereka dengan orang-orang kafir. Inilah penghijrahan ruhani yang menjadikan Muslim punya basecamp dan batas demarkasi dimana pun mereka berada. Bahkan upaya intensif kaum kaffar untuk memalingkan masyarakat dari Al Qur’an dengan ucapan mereka: “Janganlah kalian dengarkan Al-Qur’an ini dan permainkan (sibukkan orang-orang dengan permainan agar melupakan) dia.” (Qs. Fushilat:26), dibalas Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan perintah: “Sabarlah atas ucapan mereka dan menyingkirlah dari mereka dengan baik.”  (Qs Al Muzammil:10). Alangkah jauhnya perbedaan ini. Mereka menghambat laju penyebaran Al Qur’an dan ia menghijrahkan ruhani kaum beriman agar dapat menikmati kelezatan hidup dibawah naungan Al Qur’an (Qs. Al Isra’ :45). Hijrah bukan melarikan diri, ia adalah langkah cerdas agar kebenaran tidak menjadi mangsa.

“Inni Muhajirun ila Rabbi” (Aku Berangkat Menuju Dia)
Kebodohan terhadap sunnatullah menyebabkan kaum Yahudi dan segelintir elit Madinah semacam Ibnu Saul menjadi begitu meradang saat kotanya dibanjiri Muhajirin. Betapa tidak cerdasnya mereka memahami gejala alam. Mereka lupa moyang mereka yang berevakuasi ke Madinah tahun 70 M, saat negeri mereka diserang dan akhirnya memimpin di Madinah? Hijrah bukan hanya perpindahan dari wilayah ancaman ke wilayah aman. Ia adalah seleksi ‘alami’ yang akan membuktikan kekuatan seorang atau sekelompok hamba Allah untuk menjadi pemimpin. Siapa yang diam, dia takkan menjadi besar. Siapa yang menghalangi gerak, mereka akan terlindas. “Al harakah, fiha barakah” (dalam gerak ada berkah). Para muhajir telah memulainya dengan benar, suatu perpindahan yang beranjak dari kesadaran dan bukan dari kemarahan.
Sadar bahwa iman itu punya nilai tinggi yang hanya dapat dibuktikan dengan pengorbanan. Jiwa dan semangat hijrah dengan dinamika, tantangan, dan kepedihannya yang beragam mempunyai satu mata air dari telaga yang sama, “Inni Muhajirun ila Rabbi” (aku berangkat menuju Dia). Bukan kebetulan bila susunan bulan dalam perhitungan tahun Hijrah, diakhiri dengan susunan bulan Haji dan dimulai dengan bulan Muharram, sebagai pembuka tarikh hijri.
Haji yang bagi sebagian kita berarti tamatnya Islam, justru menjadi puncak bagi pendakian berikutnya. Sejak Al Khalil Ibrahim alaihissalam berangkat meninggalkan Haram ke Palestina sampai berangkat lagi ‘menghijrahkan’ istri dan putra sulungnya Ismail sampai hijrah Al Kalim Musa as ke Madyan dan puncaknya hijrah sang penutup, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, menjadi munthalaq (milestone) keagungan syari’ah yang abadi ini. Inilah mozaik kejujuran, keikhlasan, kesabaran, harapan dan kekuatan.
Ketika baru saja merasakan kebahagiaan mendapatkan putra pertama Ismail, ia diperintahkan untuk menghijrahkan sang bayi kecil dan ibunya, jauh keselatan, ia hanya punya kata “Siap: labbaik!”. Namun ia juga seorang ayah dan seorang suami. Ia tak mampu menjawab pertanyaan istrinya yang terkejut ditinggalkan di lembah suci itu, tanpa makanan tanpa minuman kecuali untuk hari itu di lembah yang belum ada apa-apa dan belum ada siapa-siapa “Mengapa engkau tinggalkan kami disni?” Tak ada jawaban. Pertanyaan berulang. Tak ada jawaban. Jawaban “Na’am” (Ya), baru keluar setelah sang istri yang sangat bertauhid ini mengajukan pertanyaan cerdas: “Apakah Allah yang menyuruhmu meninggalkan kami di sini?” Jawaban itu pula yang memantapkan istrinya: “Jadi (kalau itu kehendak Allah), maka tentu Ia takkan menyia-nyiakan kami.” (HR. Bukhari: Kitabul Anbiya).

Pewarisan
Hijrah adalah keutuhan harga diri. Sekeping tanah jauh di rantau, bersama kemerdekaan, lebih berharga daripada tinggal di negeri sendiri dengan kehinaan, tak dapat mengekspresikan iman. Kecuali bila jihad telah menjadi bahasa tunggal. Inilah terjemah hakiki sifat Islam yang ‘alamiyah (semestawi) tak tersekat oleh batas-batas sempit kesukuan dan kebangsaan, kecuali perjuangan kebangsaan bertujuan menyelamatkan dzawil qurba. Sedikit orang dapat memahami mengapa idealisme Hijrah itu menjurus-jurus ‘nekad dan naif’.
Siapa yang hina, mudah berbuat hina.
Bagi si mati tak ada rasa sakit dalam luka.
Umat ini tak menjadi kecil atau hina karena tak punya pewarisan material dari sejarah mereka, karena nilai-nilai mulia yang mereka miliki bukan hanya telah menjadi milik dunia tetapi telah menghidupkan, menyambung, dan membangun peradaban.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar