Selasa, 18 Desember 2012

Cara Menulis Puisi


                                                               BAB I
                                                      PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Diklat Bahasa Indonesia  merupakan salah satu program Balai Diklat Keagamaan Makassar  untuk  meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam rangka meningkatkan kualitas  proses dan hasil belajar peserta didik pada  satuan pendidikan.  Kegiatan peningkatan kompetensi guru  tersebut akan dilaksanakan dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)  Bahasa Indonesia  SMP.
 Untuk menunjang kegiatan tersebut, diperlukan   suplemen modul yang relevan dengan kebutuhan  pendidik dan peserta didik. Salah satu modul tersebut berkaitan dengan materi kesusastraan. Pembahasaan kesusastraan dalam  suplemen modul  ini difokuskan pada pengertian  sastra ,  periodisasi sastra, aliran  sastra, genre sastra, apresiasi sastra, dan ekspresi sastra.
 Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pengajaran bahasa. Oleh karena itu,  seorang guru Bahasa Indonesia juga dituntut  memiliki kompetensi tentang sastra dan menanamkan kegemaran bersastra.  Agar mampu berekspresi dalam  sastra, guru bahasa  terlebih dahulu harus  mampu mengapresiasi karya sastra tersebut baik secara tertulis maupun secara lisan. Hal ini berarti guru bahasa Indonesia  juga harus peka terhadap perkembangan masyarakat dan perkembangan sastra. Dengan demikian, para guru seyogianya mampu menuangkan ide, gagasan, serta perasaannya dalam bentuk karya sastra sebagai bekal dalam membimbing peserta didik. Dengan bimbingan guru profesional diharapkan peserta didik juga mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam  bentuk- bentuk karya sastra seperti: menulis dan membacakan puisi, menulis dan membacakan cerpen, dan menulis naskah dan  bermain drama, sesuai dengan standar kompetensi  dan yang harus dicapai oleh siswa selama mereka belajar di SMP.
       

1.2. Tujuan
Setelah mempelajari bahan ajar ini, peserta MGMP diharapkan dapat menguasai kompetensi yang berkaitan dengan
a.  pengertian  sastra,  periodesasi sastra Indonesia, dan aliran sastra;
     b.  genre karya sastra;
     c.  pembelajaran apresiasi sastra;
     e. Mengekspresikan perasaan melalui karya sastra, baik secara tertulis maupun secara lisan.

1.3 Alokasi Waktu
Alokasi waktu yang disediakan untuk mempelajari bahan ajar bagi peserta MGMP adalah 4 jam pelajaran (4 x 50 menit). Diharapkan waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menguasasi bahan ajar kesusastraan ini.

1.4 Sasaran
Sasaran  suplemen modul ini adalah para guru SMP peserta MGMP Bahasa Indonesia Program BERMUTU.yang tersebar di 16 provinsi di wilayah  Indonesia.
         

         BAB II
EKSPRESI KARYA SASTRA

3.1  Ekspresi Puisi
a) Menulis Puisi
Ekspresi tulis puisi adalah segala kegiatan yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik dalam menulis puisi. Pada saat Anda menemukan peristiwa yang luar biasa, misalnya jatuhnya pesawat terbang, gerhana matahari total, atau gelapnya siang hari karena letusan sebuah gunung berapi, perasaan apa yang ingin Anda ungkapkan? Apabila Anda mendapatkan hadiah undian ratusan juta rupiah atau bertemu dengan saudara yang telah beberapa tahun menghilang, perasaan apa yang akan Anda luapkan? Sedih, gembira, bahagia, atau campuran dari semuanya? Pengalaman tersebut merupakan bahan berharga apabila diekspresikan melalui puisi.
Barangkali kita tidak dengan sengaja menulisnya sebagai puisi karena hanya menuangkannya, misalnya, ke dalam buku harian. Cobalah buka kembali buku harian Anda. Mungkin Anda akan terkejut karena di sana Anda telah menguntai kata dan kalimat secara emotif. Hal itu tidak saja karena Anda telah mengekspresikan diri Anda sendiri, namun kondisi manusia sebagai homo ludens ‘makhluk bermain’ dan homo fabulans ‘makhluk bersastra’ mendorong kita untuk melakukan semua itu.
Apabila kegiatan menulis buku harian itu kita lakukan sebagai pengisi waktu luang, kini kita akan mencoba berekspresi secara khusus, yaitu dengan menulis puisi lama dan modern. Kegiatan ini, meskipun khusus menulis puisi, hendaknya jangan dianggap terlalu serius. Yang penting adalah mengembangkan imajinasi dan emosi kreatif kita dengan sarana puisi yang sudah kita kenal, yaitu puisi lama dan puisi modern.

(1) Menulis Puisi Lama
Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh syarat-syarat, seperti jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik, pola rima dan irama, serta muatan setiap bait. Silakan Anda perhatikan puisi lama berikut:

dari mana datangnya lintah
dari sawah turun ke kali
dari mana datangnya cinta
dari mata turun ke hati.

Puisi di atas adalah salah satu bait puisi lama dalam bentuk pantun. Apabila Anda akan menulis puisi lama dengan bentuk demikian, syarat-syarat yang harus Anda patuhi adalah jumlah larik dalam setiap baitnya harus berjumlah empat, jumlah suku kata dalam setiap lariknya harus antara delapan dan dua belas, rimanya mesti berpola a-b-a-b (larik ke-1 dan larik ke-3 mesti sama, demikian juga larik ke-2 dan larik ke-4), dan dua larik pertama mesti memuat sampiran, sedangkan dua larik terakhir mesti memuat isi, makna, amanat, atau pesan pantun.
Penyebutan puisi lama disebabkan adanya fenomena puisi setelahnya yang dianggap baru. Namun, yang lebih perlu Anda pahami adalah bahwa puisi lama merupakan pancaran masyarakat lama atau warisan budaya nenek moyang kita yang masih hidup dalam tradisi lisan. Karena tradisi ini menuntut orang mengingat dan menghafal, maka wajar saja jika dalam puisi lama terkandung syarat-syarat tertentu. Di sisi lain, syarat-syarat tersebut karena dijadikan sarana dalam berekspresi secara berulang-ulang, maka jadilah formula atau kaidah tetap yang menjadi ciri setiap bentuk puisi. Bentuk lainnya yang juga termasuk puisi lama adalah bidal, gazal, gurindam, mantra, masnawi, nazam, kithah, rubai, seloka, syair, talibun, dan teromba.
Meskipun bentuk puisi lama cukup banyak, kita akan menekuninya sebagian saja, terutama yang masih memengaruhi penulisan puisi modern, yaitu pantun, syair, dan mantra.

 Pantun
Seperti sudah disinggung sebelumnya, pantun merupakan ragam puisi lama. Baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa dua larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran, sementara isi atau maksud sesungguhnya terdapat dalam larik ketiga dan keempat. Berdasarkan struktur dan persyaratannya, pantun dapat terbagi ke dalam pantun biasa, pantun kilat atau karmina, dan pantun berkait.
Pantun biasa adalah pantun seperti kita kenal lazimnya dan rincian persyaratannya telah kita singgung di atas, namun dengan tambahan, isinya berisi curahan perasaan, sindiran, nasihat, dan peribahasa. Pantun biasa pun dapat selesai hanya dengan satu bait. Perhatikanlah pantun berikut, yang termasuk pantun biasa dan cukup populer karena dijadikan lirik sebuah lagu oleh Rhoma Irama:

Berakit-rakit ke hulu
berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian.

Pantun kilat atau karmina memiliki syarat-syarat serupa dengan pantun biasa. Perbedaan terjadi karena karmina sangat singkat, yaitu baitnya hanya terdiri atas dua larik sehingga sampiran dan isi terletak pada larik pertama dan kedua. Perhatikanlah beberapa karmina berikut:

Ada ubi ada talas,
Ada budi ada balas.

Anak ayam pulang ke kandang,
Jangan lupa akan sembahyang.

Satu dua tiga dan empat,
Siapa cepat tentu dapat.

Pantun berkait, kadang-kadang juga disebut dengan pantun berantai, merupakan pantun yang sambung-bersambung antara bait satu dan bait berikutnya. Dengan catatan, larik kedua dan keempat setiap bait pantun akan muncul kembali pada larik pertama dan ketiga pada bait berikutnya:

Tanam melati di rumah-rumah
ubur-ubur sampingan dua
Kalau mati kita bersama
Satu kubur kita berdua.

Ubur-ubur sampingan dua
Tanam melati bersusun bangkai
Satu kubur kita berdua
Kalau boleh besusun bangkai

Meskipun pantun merupakan puisi lama, tidak ada yang akan melarang
apabila kita memanfaatkannya sebagai sarana pergaulan kini. Terlebih-lebih, aspek didikan dan hiburan sebagai fungsi sastra dalam mayarakat lampau kita tidak terpisahkan di dalamnya. Contoh pantun di atas dapatlah dijadikan sebagian bukti.
Apabila kata-kata dalam contoh pantun tersebut dianggap terlalu arkais dan kemelayu-melayuan, kita dapat menggantinya dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Tentunya, semua kita lakukan dengan tetap mengikuti formula dan syarat-syarat sebuah pantun. Misalnya, dalam acara hiburan di salah satu televisi swasta, pantun yang bersifat humor telah menjadi paket acara tersendiri. Dalam acara rekreasi ke tempat objek wisata, ulang tahun, atau perpisahan, berbalas pantun melalui iringan gitar dapat pula dijadikan kegiatan pelepas lelah dan media berkenalan. Dengan pantun kita pun dapat memanfaatkan kelebihan dan kekurangan orang lain atau diri sendiri sebagai bahan gelak tawa, lelucon, dan banyolan yang dapat menyegarkan suasana. Di sela-sela kesibukan kuliah pun kita dapat membuat pantun, seperti berikut ini:

silau lentera di dalam tenda
tikus sawah di atap bambu
walau usia masihlah muda
lulus ujian tetaplah perlu.

burung perkutut di atas galah
kayu cendana dibuat bangku
tuntut ilmu tiada lelah
jadi sarjana cita-citaku

Apabila formula pantun di atas dianggap cukup panjang, kita dapat memanfaatkan karmina sebagai alat pergaulan. Biasanya para remaja menuliskan catatan tambahan dalam surat yang dituliskannya kepada seorang teman dengan karmina berikut:

empat kali empat enam betas,
sempat tidak sempat harus dibalas.

Seorang ketua tingkat dapat pula menempelkan secarik kertas di papan pengumuman dengan karmina berikut:
makan kupat disiram kuah,
jangan lupa kita kuliah.


Syair
Syair bersumber dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat sekitar abad ke-13, seiring dengan masuknya agama Islam ke nusantara. Seperti halnya pantun, syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya; setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata. Akan tetapi, syair tidak pernah menggunakan sampiran. Dengan kata lain, larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut. perbedaan pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Apabila pantun berpola a-b-a-b, maka syair berpola a-a-a-a.
Karena bait syair terdiri atas isi semata, maka antara bait yang satu dan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. Jadi, apabila orang akan bercerita, syair adalah pilihan yang tepat. Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi, religi, sejarah, atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya. Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra nusantara, misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, Syair Burung Pungguk, dan Syair Yatim Nestapa. Marilah kita sejenak memperhatikan beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk:
Bismillah itu mulia dikata
Limpah rahmat terang cuaca
Berkat Mohammad penghulu kita
Ialah penghulu alam pendeta

Al rahman itu sifat yang sani
Maknanya murah amat mengasihani
Kepada mumin hati nurani
Di situlah tempat mengasihani

Al rahim itu pengasihan kita
Kepada Allah puji semata
Itulah Tuhan yang amat nyata
Memberi hambanya berkata-kata

Dengarkan tuan suatu rencana
Dikarang oleh dagang yang hina
Sajaknya janggal banyak tak kena
Dari pada akal belum sempurna

Mantra
Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama. Masyarakat zaman dulu percaya bahwa mantra itu mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance 'kerasukan'. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif.
Karakteristik mantra memang sangat unik. Karena keunikannya itulah kita tidak dapat membandingkan bentuknya dengan puisi yang telah kita singgung sebelumnya, baik dengan pantun maupun syair. Terlebih-lebih, mantra hanya dapat dilontarkan oleh orang yang dianggap telah memiliki syarat-syarat tertentu. Namun, untuk kepentingan ekspresi, tidak ada salahnya apabila kita mencoba untuk membuat mantra. Meskipun formula mantra tidak sekaku pantun dan syair, kita perlu juga mengetahuinya sehingga memudahkan kita untuk menyusunnya. Menurut Umar Junus (1983:135), ciri­-ciri mantra adalah sebagai berikut:
a.   di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah;
b.   mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi;
c.   mantra menggunakan kesatuan pengucapan;
d.   mantra merupakan sesuatu yang utuh, yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya;
e.   mantra merupakan sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius;
f.    dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya.
Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini, yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak.

Pulanglah engkau kepada rimba sekampung,
Pulanglah engkau kepada rimba yang besar,
Pulanglah engkau kepada gunung guntung,
Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu,

Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang,
Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering,
Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

Kita belajar untuk membuat mantra bukan karena kemanjuran dan daya gaibnya sebab anggapan seperti itu hanya terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Kita kini mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. Terlebih-lebih, puisi modern yang akan kita bicarakan nanti masih memanfaatkan puisi lama, khususnya pantun dan mantra, sebagai alat ucap puitiknya.


(2) Menulis Puisi Modern
Puisi modern dianggap berbeda dengan puisi lama sehingga ada yang menyebutnya dengan "puisi baru". Karena puisi modern tidak terikat lagi oleh syarat-syarat seperti pantun, syair, dan mantra, maka ada juga orang yang menyebutnya dengan "puisi bebas" dan karena puisi modern adalah puisi yang ditulis kini dan ada di sekitar kita kini, maka ada juga yang menyebutnya dengan "puisi mutakhir" dan "puisi kontemporer".
Puisi lama dengan puisi modern, meskipun berbeda, tidaklah bertolak belakang sepenuhnya. Dalam pertumbuhan awal puisi modern, kita masih dapat melihat pengaruh puisi lama di dalamnya, seperti tampak dalam puisi Sanusi Pane berikut:

DIBAWA GELOMBANG
Alun membawa bidukku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tidak berkawan,
Entah ke mana aku tak tahu.

Jauh di atas bintang kemilau,
Seperti sudah berabad-abad,
Dengan damai mereka meninjau,
Kehidupan bumi, yang kecil amat.

Aku bernyanyi dengan suara,
Seperti bisikan angin di daun;
Suaraku hilang dalam udara,
Dalam laut yang beralun-alun.

Alun membawa bidukku perlahan,
Dalam kesunyian malam waktu,
Tidak berpawang, tdak berkawan,
Entah ke mana aku tak tahu.

Puisi di atas terdiri atas empat larik setiap baitnya, per larik lebih kurang empat kata atau delapan sampai dengan dua belas suku kata dan berpola rima akhir a-b-a-b. Apabila kita perhatikan selintas, puisi tersebut sama dengan pantun. Namun, apabila kita telaah lebih lanjut, ternyata di dalamnya tidak terdapat sampiran. Apakah puisi ini berbentuk syair? Syair memang tidak memiliki sampiran, akan tetapi rima akhirnya mesti berpola a-a-a-a. Selain itu, isi puisi di atas bukanlah cerita, melainkan tumpahan rasa sebagai manusia yang tengah terombang-ambing sendirian di atas perahu dan di laut lepas. Gambaran manusia seperti itu tampaknya bukanlah khusus ditujukan kepada pengarangnya sendiri, melainkan untuk manusia pada umumnya. Dengan demikian, puisi ini memang menggambarkan manusia secara konkret, namun justru untuk menunjukkan keadaannya yang abstrak. Dengan kata lain, puisi ini menyimbolkan hidup manusia. Kecanggihan semacam ini tampaknya tidak pernah terdapat dalam puisi lama, baik pantun maupun syair.
Di samping itu, ada juga penyair modern yang menunjukkan pembaharuan puisi dengan sarana estetika puisi lama. Hal itu dapat dianggap sebagai ironi atau kritik terhadap puisi lama, seperti tampak dalam puisi Rustam Effendi berikut

BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Bukan beta bijak berperi,
Pandai menggubah madahan syair,
Bukan beta budak Negeri,
musti merantut undangan mair.
                        
Sarat saraf saya mungkiri
Untai rangkaian seloka lama,
beta buang beta singkiri,
sebab laguku menurut sukma.

Susah sungguh saya sampaikan,
degup-degupan di dalam kalbu,
Lemah laun lagu dengungan,
matnya digamat rasaian waktu.

Sering saya susah sesaat,
sebab madahan tidak nak datang,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurang lukisan mamang.

Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
Bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

Sanusi Pane dan Rustam Effendi adalah sastrawan yang tergolong ke dalam Angkatan Pujangga Baru. Angkatan ini hidup sekitar tahun 1930-an sampai dengan awal tahun 40-an. Akan tetapi, pengaruh puisi lama terhadap puisi modern tidaklah berhenti pada angkatan tersebut. Para penyair setelahnya, seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Sitor Situmorang pun masih menampakkan pengaruh itu, seperti tampak pada puisi "Beta Patti Rajawane”. “Mantera", dan "Lagu Gadis Itali". Bahkan, dalam puisi-puisi mutakhir kini, seperti karya Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, dan Hamid Jabbar unsur-unsur lama itu tampak sekali. Semua itu dapat membuktikan bahwa para penyair modern tidak membuang begitu saja warisan para pendahulunya, melainkan menjadikannya sebagai sarana, bahan pengalaman artistik dan estetik, serta titik tolak penciptaan puisinya. Dengan kata lain, mereka masih tetap mempertimbangkan tradisi para pendahulunya.
Uraian di atas menunjukkan kepada kita bahwa untuk sampai pada pemahaman puisi modern, kita dapat bertolak dari puisi lama. Demikian pula, untuk sampai pada penulisan puisi modern, kita dapat memulainya dengan menulis puisi lama. Jadi, tidaklah sia-sia kreativitas yang telah kita lakukan. Sekarang marilah kita mempersiapkan diri untuk membuat puisi modern. Namun, sebelum sampai pada proses kreatif penciptaan yang bersifat idividual, kita akan bersama-sama mencoaba untuk melatih imajinasi dan daya kreatif kita dengan mengikuti latihan berikut.
a) Mendeskripsikan Objek Konkret secara Emotif
Objek konkret yang kita inderai, seperti kucing peliharaan, bunga melati, gunung, laut, dan air terjun dapat menjadi bahan pokok puisi kita. Penyair Abdul Hadi W.M. (dalam Eneste, ed,. 1984) pernah berujar, "Saya paling suka menulis puisi jika hujan sedang turun, atau sambil melihat kolam air yang memantulkan bayang-bayang benda di atasnya atau langit". Jika penyair saja menyukai objek yang kasatmata sebagai ilham bagi puisi-puisinya, apalagi kita yang baru mau belajar. Cara yang mudah adalah dengan mendeskripsikan seluk-beluk objek tersebut. Akan tetapi, karena kita tengah berlatih menulis puisi, deskripsi kita hendaknya dibangun dengan menggunakan bahasa yang bersifat emotif. Misalnya, ketika tengadah ke langit malam hari, seseorang takjub pada ribuan bintang yang tertebar di atas langit. Kemudian, ia mendeskripsikannya melalui puisi berikut.


Bintang
kemerlap jauh di atas sana
tertebar di langit hitam
Bintang
bertebaran ribuan jumlah
berhamburan melimpah ruah
Bintang, bintang, bintang!
Kapan kau terhampar di tanah
agar manusia tak kehilangan arah.

                                                                                                            1972
b) Mengurai Nama Diri
Nama adalah identitas pokok diri kita. Manusia dapat saling mengenal dan menyapa karena memiliki nama. Betapa kecewanya seseorang saat namanya tidak tercantum dalam daftar orang-orang yang berhak mengikuti ujian. Saat mendapatkan ratusan nama yang berhak mendapatkan hadiah undian sebuah produk sabun di sebuah surat kabar, tentu Anda tidak bergembira karena nama Anda tidak tercantum di dalamnya. Sebaliknya, Anda berteriak kegirangan manakala huruf A sejajar dengan nama Anda dalam sebuah daftar nilai ujian. Semua membuktikan bahwa kita sangat peduli dengan nama kita sendiri.
Kepedulian terhadap nama diri dapat dimanfaatkan untuk belajar menulis puisi. Caranya, yaitu dengan menderetkan nama kita secara vertikal. Misalnya, orang yang bernama Rizal dapat mengurai namanya seperti berikut
R
I
Z
A
L

Kemudian, kembangkanlah imajinasi dan kreativitas Anda untuk melanjutkan setiap inisial atau huruf awal tersebut. Yang paling mudah adalah menguraikan keadaan atau pengalaman diri sendiri. Anggap saja, misalnya Rizal adalah seorang remaja yang sedang melamun untuk sampai pada hari ulang tahunnya yang  ketujuh belas. Ia menulis namanya di buku harian dengan mengurainya menjadi sebuah puisi.

Riangnya hati ketika datang suatu hari
ltulah ulang tahun yang telah lama dinanti
Zikir dan syukur kepada-Nya
Adalah tindakan yang paling utama
Lalu, aku undang semua teman dan saudara


 c) Menulis Puisi Berdasarkan Tokoh dalam Sejarah, Mitologi, atau  dalam Karya Sastra
Karya sastra, apakah cerpen, novel/roman, drama, atau puisi yang telah kita baca, dapat juga dijadikan media dalam belajar menulis puisi. Apabila Anda menyenangi tokoh tertentu dalam sebuah novel, Anda dapat saja menulis puisi berdasarkan tokoh tersebut. Puisi tersebut dapat merupakan suara tokoh tersebut (tokoh menjadi aku lirik), atau komentar kita mengenai tokoh tersebut. Selain karya sastra, tokoh dalam sejarah, wayang, atau mitologi dapat juga kita jadikan bahan penulisan puisi. Sebagian besar di antara kita tentu sudah mengetahui bahwa salah satu puisi Chairil Anwar yang berjudul "Diponegoro" atau puisi Amir Hamzah yang berjudul "Hang Tuah" bersumber dari mitos pahlawan. Perhatikanlah puisi berikut, yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Puisi tersebut bersumber dari cerita wayang, yaitu Arjuna Sasrabahu atau Sumantri Ngenger:

PESAN
Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya. Kami saling mencintai, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.
Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan....

d) Mengkonkretkan Puisi dengan Bantuan Gambar
Kadang-kadang orang yang memiliki bakat lebih dari satu seni tidak akan pernah puas ketika dia membuat sebuah karya seni. Ada sebagian penyair yang mengkonkretkan puisi dengan tambahan gambar atau membentuk tipografi puisi sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, ada juga pelukis yang menambahkan kata-kata ke dalam lukisannya, seperti yang terjadi pada Zaini atau Herry Dim. Untuk puisi, kita dapat menyebut Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah seorang penyair puisi konkret. Kemudian, apa yang terbayang dalam benak kita ketika membaca puisi Akhudiat berikut ini:
( ( (plung) ) )
Puisi yang dikonkretkan melalui gambar, yang dikenal dengan puisi konkret, memang bukan hal yang baru. Di Amerika penyair E.E. Cummings pernah melakukannya, demikian pula penyair Appolonaire di Prancis. Apabila kita kini belajar menulis puisi konkret, tentu tujuannya bukan untuk membuat pembaharuan, melainkan untuk merangsang dan mengembangkan imajinasi.  Hal ini dapat kita mulai, misalnya dengan membuat puisi tentang bunga, rumah, atau benda konkret lainnya, kemudian tipografi dan kaligrafinya kita susun sehingga serupa dengan objek yang kita jadikan bahan penulisan puisi.

e) Menulis Puisi Berdasarkan Pengalaman Diri
Kita sering kali mendengar kata-kata, " Orang dapat menulis puisi ketika sedang jatuh cinta", atau "Kesedihan akan berkurang apabila dituangkan melalui puisi". Kata-kata tersebut, meskipun belum tentu menghasilkan puisi yang bermutu dari segi estetik, dapat Anda manfaatkan sebagai bahan berlatih dalam menulis puisi. Terlebih-lebih, manusia sebagai makhluk hidup tidak akan luput dari pengalaman, baik yang menyedihkan maupun yang membahagiakan. Pengalaman itu tidak perlu Anda tunggu sampai datang karena Anda dapat menghadirkan kembali pengalaman yang telah lampau. Ketika Chairil Anwar ditinggal nenek yang dicintainya, ia sangat sedih. Namun, kesedihan itu ia konpensasikan menjadi kegiatan kreatif sehingga ia mampu menciptakan sajak berikut:

NISAN
untuk neneknda

bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta

Beberapa cara latihan di atas tampaknya masih umum sebab tujuannya sekedar merangsang imajinasi agar dapat berkreasi dengan menulis puisi. Namun, manfaatnya tak dapat diragukan sebab untuk belajar menulis puisi tidak ada jawaban lain, seperti kata Saini K.M., kecuali..."Tulis!"

Dramatisasi Puisi
Dalam Kamus lstilah Sastra (1986) suntingan Panuti Sudjiman disebutkan bahwa dramatisasi sepadan dengan istilah "dramaan". Batasan kedua istilah tersebut adalah pengalihan karya sastra, baik puisi, cerpen, dan lainnya menjadi drama. Dengan demikian, dramatisasi puisi dapat berarti "mendramakan puisi". Dalam hal ini, puisi mesti tunduk pada kaidah-kaidah drama. Misalnya, apabila dalam konvensi drama terdapat kramagung/teks samping/petunjuk pengarang dan wawancang/dialog/ cakapan, maka dalam dramatisasi puisi pun demikian. Pendeknya, jika kita akan menampilkan dramatisasi puisi di atas pentas, syarat utama yang harus kita lakukan adalah memahami terlebih dahulu konvensi drama pentas sehingga kita mesti menguasai penataan pentas (skeneri), blocking dan acting yang benar.
Dramatisasi puisi memang mesti bertolak dari puisi. Akan tetapi, agar puisi itu sesuai dengan kaidah pemanggungan, maka seyogianyalah apabila puisi tersebut ditransformasikan terlebih dahulu ke dalam drama.

Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi adalah menggubah puisi menjadi sebuah lagu. Dengan demikian, antara puisi dan musik harus memiliki keselarasan. Sepintas memang tidak terdapat perbedaan antara musikalisasi puisi dan lagu yang diiringi musik. Bukankah lagu juga bersumber dari lirik puisi? Syair atau lirik lagu biasanya dibuat setelah musik tercipta. Namun, dapat juga pemusik menciptakan musik dan lirik lagunya secara bersamaan. Bahkan, Ebiet G. Ade biasa membuat syair terlebih dahulu sebelum menyusun partitur musiknya. Meskipun demikian, tidak ada keharusan bagi pemusik untuk tunduk kepada lirik lagu. Jika perlu, untuk menyelaraskan lirik dengan musik dapat saja kita mengubah atau mengganti kata-kata syair tersebut. Dalam musikalisasi puisi tidaklah demikian. Hal itu disebabkan puisinya sudah tercipta dan merupakan salah satu bentuk seni, yaitu karya sastra. Dengan demikian, dalam musikalisasi, aransemen musik tidak boleh mengubah puisi. Puisi harus tetap utuh. Di sinilah kita dituntut untuk lebih kreatif karena dalam musikalisasi puisi yang ideal, aransemen musik mesti dapat menangkap karakter puisi yang digubah. Misalnya, puisi yang bersuasana muram dan sedih selayaknyalah apabila ditampilkan dalam nada dan irama musik yang bernuansa muram dan sedih pula.
Contoh konkret musikalisasi puisi sebenarnya sudah kita kenali. Misalnya, grup Bimbo pernah menyanyikan lagu "Salju" yang bersumber dari puisi Wing Karjo atau "Sajadah Panjang" yang bersumber dari puisi Taufik Ismail. Akan tetapi, grup Bimbo tidak pernah mengkhususkan diri pada musikalisasi puisi. Puisi-puisi yang mereka gubah barangkali karena dianggap sesuai dengan karakter musik mereka. Contoh yang sangat tepat untuk musikalisasi adalah album kaset Hujan Bulan Juni dan Hujan dalam Komposisi yang diproduksi oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kedua album ini memang khusus direkam untuk kepentingan musikalisasi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono.
Untuk kepentingan apresiasi puisi, memusikalisasi puisi dapat dijadikan kegiatan penguatan (reinforcement). Yang penting, Anda memiliki kepekaan rasa sehingga dapat menyelaraskan karakter musik dengan puisi yang kita pilih sebagai lirik lagunya. Kita pun tidak perlu terpaku pada musikalisasi puisi yang telah ada. Misalnya, apabila Anda mengadakan lomba musikalisasi puisi, materi lomba tidak perlu puisi yang sudah dimusikalisasi karena ini akan menimbulkan pemajalan daya kreativitas. Biarkanlah peserta lomba berkreativitas untuk memadukan karakter puisi dengan musik yang dimainkan. Alat musik pun tidak harus selamanya gitar, piano, biola, dan alat musik modern lainnya. Alat musik etnik, seperti rebana, rebab, kecapi, gamelan, gong, dan gendang dapat menghasilkan musikalisasi puisi yang eksotik dan ebih bernuansa warna lokal. Bukankah yang membuat menarik pementasan musikalisasi puisi kelompok Sanggar Matahari Jakarta dan Kiai Kanjeng-nya Emha Ainun Nadjib adalah musik etniknya juga? Kemudian, apabila kita hubungkan dengan karakter puisi Indonesia, bukankah unsur-unsur etnik atau warna lokal juga merupakan bagian senyawa yang tak terpisahkan?

3.2 Ekspresi Prosa
Menulis Prosa
      Menulis buku harian merupakan upaya pembiasaan agar kita memiliki kompetensi keterampilan menulis. Awalnya mungkin kita hanya menulis catatan penting, seperti agenda kerja atau agenda kegiatan sehari-hari. Hal itu merupakan langkah awal yang baik. Kegiatan itu dapat kita lanjutkan dengan mencatat peristiwa penting, misalnya gempa bumi, tabrak lari,  atau pencurian. Peristiwa tersebut dapat kita kembangkan dengan melibatkan imajinasi kita sehingga tokohnya  diberi karakter tertentu, peristiwanya dijalin lebih memikat, dan latarnya dirinci secara detil. Apabila kegiatan ini masih dianggap sulit, kita dapat melakukan kegiatan menulis secara sederhana, yaitu menarasikan pengalaman yang telah kita lakukan dari bangun tidur hingga ketika akan tidur kembali.
      Beberapa kegiatan yang telah kita lakukan dalam menulis puisi dapat kita manfaatkan juga untuk kepentingan menulis prosa, khususnya cerpen. Kegiatan yang dimaksud adalah mendeskripsikan objek konkret secara emotif dan menulis cerpen berdasarkan tokoh dalam sejarah, mitologi, atau karya sastra  lainnya.
      Para sastrawan acap kali menggunakan fakta cerita dalam sejarah atau mitologi sebagai teks dasar karyanya. Misalnya novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangun Wijaya memunculkan tokoh-tokoh nyata ketika zaman revolusi kemerdekaan, seperti Amir Syarifudin. Seno Gumira Ajidarma memunculkan tokoh-tokoh wayang dalam novel Kitab Omong Kosong, atau Hermawan Aksan memunculkan kembali tokoh Diah Pitaloka, Puteri Sunda yang menjadi martir dalam perang yang tidak seimbang antara Kerajaan Pajajaran dan Majapahit, yang dikenal dengan Perang Bubat. Mari kita perhatikan salah satu penggalan cerpen karya Putu Wijaya berjudul “Bisma”. Resi Bisma yang dalam mitologi pewayangan dihormati, disegani, dan dijunjung tinggi oleh pihak Kurawa dan Pandawa karena sebagai sesepuh Kerajaan Astina, dalam novel tersebut dimunculkan secara ganjil dan lucu.
           Bisma bangkit dari tanah, udara dan air, yang melebur jasadnya setelah jutaan tahun yang lalu pralaya dalam perang Bharatayuda. Tubuhnya yang tinggi besar dan sedikit bungkuk karena tua tampak agung ditancap oleh ribuan panah. Mukanya yang dihiasi brewok dan cambang putih sudah kisut, akan tetapi masih tetap memancarkan sinar yang jernih. Resi yang telah memikul pengorbanan yang dahsyat itu tiba-tiba muncul di Pasar Senen.
Namun, satu hal yang perlu kita cermati, Hal yang dilakukan sastrawa  bukanlah untuk menjiplak karya yang sudah ada, melainkan untuk mereaksi,  menanggapi, atau melakukan dialog dengan karya-karya sebelumnya. Bahkan, cara ini menarik minat para pakar sastra sehingga memunculkan kajian sastra dengan menggunakan pendekatan resepsi sastra dan intertekstualitas.
            Menulis prosa pun dapat kita lakukan dengan cara memperhatikan konvensi yang terdapat dalam sebuah karya prosa. Jika cara ini yang kita pilih, maka
Kita harus mempehatikan hal-hal berikut.
1)    Tentukanlah tema cerpen berdasarkan persoalan yang Anda kuasai, kemudian konkretkan tema tersebut dengan judul yang menarik dan sesingkat mungkin, misalnya tidak lebih dari lima kata.
2)    Sadarilah bahwa cerpen yang konvensional selain menyertakan judul dan pengarangnya harus juga dilengkapi aspek formal cerpen lainnya, yaitu adanya narasi dan dialog tokoh.
3)    Kembangkanlah tema  ke dalam unsur-unsur cerpen, seperti fakta cerita (alur, tokoh, dan latar), sarana cerita (sudut pandang, penceritaan, dan gaya bahasa).
4)    Padukanlah unsur-unsur cerpen dengan memperhatikan kaidah alur, yaitu peristiwa disusun secara logis dan kronologis, menghadirkan suspense ‘rasa ingin tahu’ membuat surprise ‘kejutan’ dan menjalin seluruh unsur cerpen sehingga tampak utuh.
3.3 Ekspresi Drama
Beberapa Pelatihan Menulis Naskah Drama
Dengan pengetahuan mengenai konvensi drama dan dengan ditambah keberanian, kita dapat memulai untuk menulis drama. Berikut ini merupakan pelatihan praktis yang dimodifikasi dari Moody (1971: 88), yaitu  (1) menggali nilai-nila dramatik (dari drama yang sudah ada), (2) menulis dialog imajiner, dan (3) menciptakan situasi dramatik dari berbagai sumber.

a. Mengadaptasi, Menyadur, dan Memvisualisasi Drama yang sudah Ada
Drama yang tersedia di perpustakaan, di toko-toko buku, atau yang dijadikan bahan kurikulum di sekolah lebih banyak yang "enak" untuk dibaca daripada dipentaskan. Hal itu disebabkan tidak semua pengarang drama mengetahui seluk-beluk teater atau pemanggungan, meskipun ketika mereka menulis drama, benaknya pasti berusaha untuk memvisualisasi panggung. Keadaan ini mengakibatkan pihak yang akan mementaskan drama, misalnya sutradara, perlu menyunting terlebih dahulu naskah drama yang akan dipentaskan. Selain itu, antara drama sebagai karya sastra di satu pihak dan teater di lain pihak merupakan bentuk seni yang memiliki kekhasan masing­-nasing. Dalam teater, naskah drama hanyalah salah satu unsur teater sehingga kretaivitas sutradara lebih penting daripada otonomi pengarang drama.
Anggap saja bahwa Anda adalah seorang sutradara yang akan mewujudkan sebuah naskah drama ke dalam seni pertunjukan. Ada dua buah naskah drama yang menarik Anda, akan tetapi terdapat dua masalah yang belum terpecahkan. Naskah pertama merupakan naskah terjemahan dari bahasa asing sehingga belum kontekstual. Naskah kedua sedikit sekali mencantumkan kramagung atau petunjuk pentasnya sehingga miskin dengan imajinasi visual. Bagaimana cara memecahkan masalah ini? Agar kontekstual, naskah pertama dapat Anda adaptasi atau Anda sadur sesuai dengan konteks zaman dan tempat yang Anda inginkan dan naskah kedua dapat dikonkretkan dengan lebih memperjelas kramagungnya. Contoh pertama telah kita singgung pada saat membicarakan Rendra dengan drama Perampok-nya, sedangkan cohtoh kedua sering kali dilakukan oleh sutradara dalam proses produksinya, yaitu dengan lebih mengkonkretkan naskah drama dengan floo-rplan (penggambaran arah gerak pemain) dan promp-tbook (naskah yang sudah disunting sesuai dengan keperluan pementasan).

b. Membuat Dialog Imajiner
Latihan menulis pun dapat Anda lakukan dengan membuat dialog imajiner berdasarkan situasi dramatik yang sangat Anda kenal. Misalnya, Anda membuat dialog antara dua pihak yang memiliki masalah atau konsep yang bertentangan: para buruh dengan majikannya, para pemburu dengan pencinta lingkungan hidup, para pedagang kakilima dengan petugas Tibum atau Satpol P.P., atau dapat juga kita memecahkan persoalan yang di tinjau dari dua sudut yang berbeda. Di media massa kadang-kadang terdapat rubrik yang berisi wawancara imajiner dengan tokoh-tokoh yang sudah meninggal, misalnya wawancara imajiner Christianto Wibisono dengan Bung Karno. Wawancara itu dibuat karena pengarang (pewawancara) sangat mengenal subjek yang dibicarakan. Dia tahu betul siapa Bung Karno, apa gagasan dan filsafatnya.

c. Mendramakan berbagai Sumber yang Mengandung Peristiwa Dramatik
Zaman kita kini adalah zaman informasi. Apabila peristiwa kecil dan remeh dapat menarik karena dikemas secara apik dalam pemberitaannya, bagaimana dengan peristiwa besar, seperti jatuhnya pesawat terbang, kudeta berdarah, gempa bumi, dan meningganya kepala negara? Peristiwa-peristiwa seperti itu tentu dapat Anda jadikan bahan penulisan drama. Dengan catatan, Anda mesti mampu melihat atau menemukan peristiwa dramatik di dalamnya. Misalnya, apabila Anda membaca berita mengenai jatuhnya pesawat terbang Adam Airi atau Garuda, peristiwa dramatik dapat Anda buat dengan membayangkan bahwa Anda adalah bagian dari penumpang yang selamat, atau ketika Anda membaca berita terhentinya pertandingan sepak bola karena ulah penonton yang berlaku anarki, Anda membayangkan bahwa Andalah trouble maker-nya sehingga khawatir, cemas, dan takut berkecamuk di dalam dada.
Sumber pencarian peristiwa dramatik, tentunya tidak hanya berita dalam surat kabar, majalah, atau televisi, namun segala sumber yang menarik Anda dan dipandang sebagai potensi dalam memunculkan peristiwa dramatik. Misalnya, esai, pledoi pengadilan, bahkan profil seorang tokoh dapat mengandung peristiwa dramatik, terlebih-lebih jika orientasi kita pada pertunjukkan di atas panggung. Sebagai bukti, kelompok teater di Jakarta, yaitu Teater SAE pernah menampilkan drama berjudul Pertumbuhan di Meja Makan, yang naskahnya bersumber dari berbagai tulisan di surat kabar; Wellem Pattirajawane, seorang aktor dari Teater Kecil, pernah menampilkan monolog yang bersumber dari buku Indonesia Menggugat karangan Bung Karno, Atau Adi Kurdi, aktor dari Bengkel Teater Rendra, pernah menampilkan monolog yang bersumber dari profil dan keberanian Adi Andojo sebagai hakim agung muda.
Namun, kita harus kembali pada tujuan semula, yaitu berlatih menulis drama. Oleh sebab itu, segala bahan yang dipilih dibaktikan agar Anda terampil menulis drama, misalnya dengan mengemas bahan itu secara apik ke dalam dialog dan kramagung, yang kemudian ditata kembali dalam adegan demi adegan serta babak.

BAB IV
RANGKUMAN

Sastra bukanlah seni bahasa belaka, melainkan  suatu kecakapan  dalam menggunakan bahasa yang  berbentuk dan bernilai sastra. Jelasnya faktor yang menentukan  adalah kenyataan bahwa sastra menggunakan bahasa  sebagai medianya. Berkaitan dengan maksud tersebut, sastra selalu bersinggungan dengan pengalaman manusia yang lebih luas daripada yang bersifat estetik saja. Sastra selalu melibatkan pikiran pada kehidupan sosial, moral, psikologi, dan agama. Berbagai segi kehidupan dapat diungkapkan dalam karya sastra.
Periodisasi sastra adalah penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu   dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya.  Periodisasi sastra, selain berdasarkan tahun kemunculan, juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial, serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya.
Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.
Pada prinsipnya, aliran  sastra dibedakan menjadi dua bagian besar, yakni (1) idealisme, dan (2) materialisme. Idealisme adalah aliran romantik yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Menurut aliran ini, segala sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Aliran idealisme ini dapat dibagi menjadi (a) romantisisme, (b) simbolik, (c) mistisisme, dan  (d) surealisme
          
Karya sastra  menurut jenisnya terbagi atas puisi, prosa, dan drama. Pembagian tersebut  semata-mata didasarkan atas perbedaan bentuk fisiknya saja, bukan substansinya. Substansi karya sastra apa pun bentuknya tetap sama, yakni pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan dimensinya. Pengenalan terhadap ciri-ciri bentuk sastra ini memudahkan proses pemahaman terhadap maknanya. Demikian pula komponen–komponen yang turut membangun karya sastra tersebut. Berikut ini dipaparkan ketiga bentuk karya sastra  tersebut.
Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. (1) Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa. (2) Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa. (3) Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra. (4) Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata.
            Adapun tujuan pembelajaran sastra dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: (1) dilihat secara umum, dan (2) dilihat dari kurikulum yang digunakan di sekolah. Secara umum, tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa: (a) memperoleh pengalaman bersastra, dan (b) memperoleh pengetahuan sastra.
            Tujuan untuk memperoleh pengalaman bersastra dimaksudkan agar siswa memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi sastra. Pengalaman tersebut dilakukan siswa dengan membaca hasil karya sastra, mendengarkan pembacaan karya sastra, menonton pementasan sastra. Jadi dalam hal ini siswa siswa mampu berekspresi sastra melalui pengekspresian karya sastra. Kegiatan pengekspresian tersebut dapat dilakukan dengan cara: menulis (puisi, cerpen, dialog), berdeklamasi, mementaskan drama, dll. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menulis surat kepada penulis hasil karya sastra tersebut. Hasil kreasi atau karya sastra dapat dipakai sebagai media dalam pembelajaran apresiasi sastra.
Ekspresi sastra adalah kegiatan kreatif yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik, baik secara tertulis maupun secara lisan. Kegiatan ekspresi sastra secara tertulis yang dapat kita lakukan adalah menulis karya sastra, seperti menulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Sementara itu, kegiatan ekspresi sastra secara lisan, bahkan ragawi atau kinestetik adalah membaca puisi, rampak puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, membaca cerpen, paduan baca cerpen, dramatisasi cerpen, mendongeng dengan bahan cerita rakyat, dan memainkan atau mementaskan naskah drama.
Dalam kegiatan ekspresi sastra secara tertulis, kita dapat memanfaatkan pengalaman yang kita alami sendiri. Sebagai langkah awal, pengalaman tersebut dapat  kita tuangkan ke dalam buku harian. Cara lain adalah dengan menarasikan sepenggal kehidupan kita, mendeskripsikan pengalaman secara emotif, atau melibatkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam sejarah, mitologi atau karya sastra lainnya. Hal terakhir dilakukan bukan untuk menjiplak karya yang sudah ada, bahkan banyak sastrawan yang melakukannya untuk mereaksi,  menanggapi, atau melakukan dialog dengan karya-karya sebelumnya, yang dalam ilmu sastra dapat dijadikan bahan kajian resepsi sastra dan intertekstualitas.
Dalam kegiatan ekspresi sastra secara lisan, kita dapat memanfaatkan dasar-dasar bermain drama sebagai sarana untuk meningkatkan peralatan suara dan anggota tubuh kita hingga mampu membaca puisi dan cerpen  dan terampil dalam memainkan sebuah naskah drama. Namun, sebelum berlatih dasar-dasar drama, kita dapat meningkatkan daya apresiasi dan ekspresi kita secara optimal dengan empat teknik membaca, yaitu membaca dalam hati, membaca nyaring, membaca kritis, dan mudah-mudahan akhirnya kita sampai pada tujuan yang kita cita-citakan, yaitu mampu membaca karya sastra secara puitis dan estetis.

BAB V
 PENILAIAN

5.1 Soal Latihan
Untuk memantapkan pemahaman Anda terhadap materi bahan ajar kesusastraan, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
1.        Jelaskan pengertian sastra!
2.        Sebutkan  periodisasi sastra menurut H.B. Jassin!
3.        Jelaskan pengertian aliran romantik idealisme dan berilah contoh karya sastra yang dipengaruhi aliran tersebut!
4.        Sebutkan dan jelaskan genre sastra Indonesia!
5.        Jelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen!
6.        Jelaskan fungsi bahasa dalam karya sastra!
7.        Jelaskan karakteristik  drama!
8. Tulislah sebuah puisi dengan tema bebas, yang bersumber dari peristiwa  menyedihkan atau menyenangkan yang pernah Anda alami!
9. Tulislah sebuah cerpen dengan tema bebas, yang melibatkan tokoh-tokoh yang pernah Anda kenal, baik dalam sejarah, karya sastra, maupun dalam kehidupan sehari-hari!
10. Tulislah sebuah naskah drama pendek dengan tema bebas, yang bersumber dari cerpen, legenda, atau film yang pernah Anda tonton!

5. 2 Kunci Jawaban

  1. Sastra adalah bentuk seni yang dilahirkan dari keindahan penggunaan bahasa, keaslian gagasan yang diungkapkan, dan kedalaman pesan yang disampaikan baik secara lisan maupun tertulis.
2.  Periodisasi sastra menurut H.B. Jassin. H.B.Jassin mengelompokkan  sastra Indonesia atas dua periode, yaitu:
a) periode sastra Melayu Lama
b) periode  sastra Indonesia Modern. yang terdiri atas empat angkatan, yaitu (1) Angkatan Balai Pustaka;
(1)  Angkatan Pujangga Baru;
(2) Angkatan ’45;
 (3) Angkatan ’66.

  1. Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angkatan . Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sementara romantik realisme mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani).
  2. Tiga genre sastra Indonesia, yaitu puisi, prosa, dan drama. Puisi adalah
Puisi adalah karya sastra yang khas penggunaan bahasanya dan memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik.
Prosa merupakan jenis karya sastra dengan ciri-ciri antara lain (1) bentuknya yang bersifat penguraian, (2) adanya satuan-satuan makna dalam wujud alinea-alinea, dan (3) penggunaan bahasa yang cenderung longgar. Bentuk ini merupakan rangkaian peristiwa imajinatif yang diperankan oleh pelaku-pelaku cerita, dengan latar dan tahapan tertentu yang sering disebut dengan cerita rekaan. Bentuk ini  terbagi atas kategori cerita pendek, novelet,  dan novel.
Drama adalah Karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog para tokohnya  berisi cerita atau tiruan perilaku manusia  dengan tujuan untuk dipentaskan.

5. Unsur-unsur intrinsik cerpen adalah tema, tokoh/ penokohan, alur, latar, sudut pandang, amanat, dan gaya bahasa.
6.  Fungsi bahasa dalam karya sastra adalah sebagai berikut.

Fungsi emotif mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan, membentuk dan mengekspresikan gagasan, perasaan,  pendapat, dan sikap penyair.
Fungsi referensial  mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan objek, peristiwa, benda ataupun kenyataan tertentu sejalan dengan gagasan, perasaan, pendapat, dan sikap yang kita sampaikan.
Fungsi puitik yakni fungsi bahasa untuk menggambarkan makna sebagaimana terdapat dalam lambang kebahasaan itu sendiri.
Fungsi fatis, mengacu pada konsepsi bahwa bentuk kebahasaan yang digunakan dalam komunikasi juga bisa digunakan untuk fungsi mempertahankan hubungan guna menciptakan kesan keakraban ataupun menciptakan bentuk-bentuk hubungan tertentu.
Fungsi konatif  berisi konsepsi bahwa peristiwa bahasa dalam komunikasi berfungsi menimbulkan efek, imbauan, ataupun dorongan tertentu penanggapnya.
7.Karakteristik karya sastra drama adalah:
    1. Drama memiliki dua aspek esensial, yaitu aspek cerita dan aspek pementasan;
    2. Drama memiliki tiga dimensi, yaitu sastra, ujaran, dan gerak.

Rubrik penilaian (untuk soal no. 8, 9, dan 10)
Soal nomor 8 (menulis puisi) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut:

Aspek
Kriteria dan Skor
25
20
15
10
Kelengkapan aspek formal cerpen
Memuat
 1) judul
 2) nama pengarang
 3) dialog
 4) narasi
Hanya memuat tiga subaspek
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek

Kelengkapan unsur intrinsik cerpen
Memuat
1) fakta cerita  (plot, tokoh, dan   latar) 
2) sarana cerita (sudut pandang, penceritaan, gaya bahasa, simbolisme, dan ironi),
3) pengembangan tema yang relevan dengan judul
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap (misalnya, fakta cerita hanya memuat plot dan tokoh, tanpa disertai latar yang jelas)
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek








Keterpaduan unsur/struktur cerpen
Struktur disusun dengan memperhatikan
1) kaidah plot (kelogisan, rasa  ingin tahu, kejutan, dan  keutuhan) dan penahapan plot     (awal, tengah, akhir)
2) dimensi tokoh (fisiologis, psiklogis, dan sosiologis
3) dimensi latar (tempat, waktu  dan sosial)
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek

Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen
Menggunakan
1) kaidah EYD 
2) keajekan penulisan
3) ragam bahasa yang disesuaikan dengan dimensi
    tokoh dan latar
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek


Soal nomor 9 (menulis cerpen) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut:
Aspek
Kriteria dan Skor
25
20
15
10
Kelengkapan aspek formal cerpen
Memuat
 1) judul
 2) nama pengarang
 3) dialog
 4) narasi
Hanya memuat tiga subaspek
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek

Kelengkapan unsur intrinsik cerpen
Memuat
1) fakta cerita  (plot, tokoh, dan   latar) 
2) sarana cerita (sudut pandang, penceritaan, gaya bahasa, simbolisme, dan ironi),
3) pengembangan tema yang relevan dengan judul
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap (misalnya, fakta cerita hanya memuat plot dan tokoh, tanpa disertai latar yang jelas)
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek

Keterpaduan unsur/struktur cerpen
Struktur disusun dengan memperhatikan
1) kaidah plot (kelogisan, rasa  ingin tahu, kejutan, dan  keutuhan) dan penahapan plot     (awal, tengah, akhir)
2) dimensi tokoh (fisiologis, psiklogis, dan sosiologis
3) dimensi latar (tempat, waktu  dan sosial)
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek

Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen
Menggunakan
1) kaidah EYD 
2) keajekan penulisan
3) ragam bahasa yang disesuaikan dengan dimensi
    tokoh dan latar
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek



Soal nomor 10 (menulis naskah drama) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut:

Aspek
Kriteria dan Skor
5
4
3
2
Kelengkapan aspek formal drama
Memuat
 1) judul,
 2) informasi  tokoh,
 3) kramagung dan wawancang,
 4) pembagian babak, dan
     adegan
Hanya memuat empat subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat tiga subaspek
Hanya memuat satu aspek
Kelengkapan unsur intrinsik
Memuat
1) fakta cerita  (plot, tokoh, dan
    latar) 
2) sarana cerita (sudut pandang
    penceritaan, gaya bahasa,
    simbolisme, dan ironi),
3) pengembangan tema
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat dua suaspek
Hanya memuat satu subaspek
Keterpaduan unsur/struktur
Struktur disusun dengan memperhatikan
1) kaidah dan penahapan plot,
2) dimensi tokoh
3) dimensi latar
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek
Kesesuaian penggunaan bahasa
Menggunakan
1) kaidah EYD 
2) keajekan penulisan
3) ragam bahasa yang disesuaikan
    dengan dimensi tokoh
Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap
Hanya memuat dua subaspek
Hanya memuat satu subaspek
 Skor tertinggi: 20 (untuk mencapai nilai 100, nilai yang dicapai siswa dikalikan 5)


DAFTAR PUSTAKA


Anirun, Suyatna. 1979. Tehnik Pemeranan. Diktat. Bandung: Studiklub Teater           Bandung.
Atmojo, Kemala. 1992. "Saya selalu Takut". Wawancara dengan Arifin C. Noer.       Matra. No. 71.
Hadimadja, Aoh K. 1972. Aliran Klasik, Romantik, dan Realisma.
            Jakarta: Pustaka Jaya.
Harymawan, RMA.1988. Dramaturgi. Bandung: Rosda.
Jassin, H.B. 1981. Tifa Penyair dan Daerahnya. Jakarta: Gunung Agung.
Luxemburg, Jan Van dkk, 1986. Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.
Moody, H.L.B. 1971. The Teaching of  Literature. London: Longman Group LTD.
Padmodarmaya, Pramana. 1990. Pendidikan Seni Teater Buku Guru Sekolah Dasar . Jakarta: Depdikbud.
Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Rendra. 1982. Tentang Bermain Drama. Jakarta Pustaka Jaya.
Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung : Gunung Larang.
_________. 1996.  Peristiwa Teater.  Bandung: Institut Teknologi Bandung.
_________. Tanpa Tahun. “Analisis Naskah Drama.” Kertas Kerja.
S. Effendi. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.
Soelarto, B. 1985. Lima Drama. Jakarta: Gunung Agung.
Stanislavski. 1980. Persiapan Seorang Aktor.  Terjemahan Asrul Sani. Jakarta: Pustaka Jaya .
Sudjiman, Panuti. (Peny). 1986.  Kamus Istilah Sastra.  Jakarta: Gramedia.
Sumiyadi. 1992.  “Drama sebagai Seni Sastra dan Pertunjukan” dalam Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni No. XVIII.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tim Penyusun Kamus. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (Terjemahan Melani Budianta). Jakarta: Gramedia
Zaidan, Abdul Razak. 2000. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.










GLOSARIUM


apresiasi sastra
kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan  yang baik terhadap karya sastra
drama
ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertujukkan di atas pentas.
dramatisasi puisi
mendramakan puisi; mengubah teks puisi menjadi teks drama
dramatisasi cerpen
mendramakan cerpen; mengubah teks cerpen menjadi teks drama
dialog
kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh tokoh dalam sebuah drama
ekspresi sastra
segala kegiatan yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik sastra yang diungkapkan baik secara lisan, tertulis, dan ragawi
mendongeng
menuturkan cerita rakyat  baik dengan kata-kata sendiri, maupun dengan cara menghafalnya
musikalisasi puisi
 menggubah puisi menjadi sebuah lagu dengan mempertimbangkan keselarasan antara karakter puisi dan musik yang mengiringinya
paduan baca cerpen
membacakan cerpen secara padu sehingga menimbulkan suara yang indah dan sesuai dengan isi dan karakter cerpen
rampak puisi
membacakan puisi secara serempak atau secara padu sehingga menimbulkan suara yang indah dan sesuai dengan isi dan karakter puisi


1 komentar:

Poskan Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

















Google+ Followers



SAHABATKU

Copyright © 2012. ASMI - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Bamz