PENDIDIK HARUS TERDIDIK

Bisnis On Line Tanpa Modal

Cari Blog Ini

Selasa, 18 Desember 2012

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Selamat berjumpa dengan Program Diklat Bahasa Indonesia Tingkat Dasar. Program DIKLAT ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui profesionalisme dan kinerja guru secara berkelanjutan. Bahan Ajar ini membahas Model Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan sasaran guru Bahasa Indonesia MTS.  Bahan Ajar  ini diharapkan dapat  mempermudah guru dalam memahami dan menerapkan Model pembelajaran bahasa Indonesia di MTS.

1.2 Tujuan
Tujuan disusunnya   Bahan Ajar ini agar para guru bahasa Indonesia  MTS:
1)     memiliki pengetahuan yang memadai tentang Model pembelajaran bahasa Indonesia di MTS;
2)     mengembangkan kreativitas guru dalam menyiasati standar isi mata pelajaran bahasa Indonesia dalam bentuk pembelajaran yang bermakna dan bernuansa PAKEM; dan
3)     mampu menerapkan model yang sesuai dengan materi pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan tuntutan standar isi dan silabus.   
BAB II
 MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
    
A.  Konsep Pendekatan, Metode, Teknik, dan Strategi  
            Istilah pendekatan, metode, dan teknik dalam pembelajaran sering dikacaukan pengertiannya dan sering pula digunakan untuk mengacu pada makna yang sama. Istilah pendekatan, metode, dan teknik pada dasarnya memiliki perbedaan antara satu dan yang lain.
   Pendekatan (approach) merupakan seperangkat asumsi yang berhubungan dengan hakikat belajar dan mengajar. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif (Sanjaya,  2008:127).
            Selanjutnya, teknik pembelajaran sering disamakan artinya dengan metode pembelajaran. Teknik adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai (Gerlach dan Ely dalam Uno, 2008:2).
            Metode pembelajaran dapat didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah cara yang digunakan, yang bersifat implementatif. Dengan perkataan lain, metode yang dipilih oleh masing-masing guru dapat saja sama, tetapi implementasinya di kelas akan berbeda. Inilah yang dikenal sebagai teknik.  
            Majid (2005:132) mengemukakan bahwa pendekatan dapat diartikan sebagai seperangkat asumsi mengenai belajar-mengajar   Belajar-mengajar dalam hal ini mencakup semua bidang studi sehingga dikenal adanya  pendekatan dalam pembelajaran bahasa, pendekatan dalam pembelajaran matematika, pendekatan dalam pembelajaran IPS, dan pendekatan dalam pembelajaran bidang studi-bidang studi yang lain, di samping adanya pendekatan yang dikenal secara umum dalam bidang pembelajaran apa pun. Metode adalah rencana menyeluruh tentang penyajian bahan ajar secara sistematis dan berdasarkan pendekatan yang ditentukan. Teknik adalah kegiatan spesifik yang diimplementasikan dalam kelas sesuai dengan metode dan pendekatan yang dipilih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendekatan bersifat aksiomatis, metode bersifat prosedural, dan teknik bersifat implementasional. 
            Selanjutnya, masih berkenaan dengan pendekatan, metode, dan teknik, Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, umpamanya, dikenall beberapa macam pendekatan, di antaranya pendekatan keterampilan proses, pendekatan CBSA, pendekatan komunikatif, pendekatan integratif,  pendekatan kebermaknaan (whole language), dan pendekatan yang populer dewasa ini, yaitu PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan). Istilah pendekatan dalam konteks pembelajaran bahasa mengacu kepada teori-teori tentang hakikat bahasa dan pembelajaran bahasa yang berfungsi sebagai landasan dan prinsip pembelajaran bahasa (Syafi’ie dalam Rahim, 2005:31).
Pendekatan yang dianut akan menentukan metode yang dipandang sesuai dengan pendekatan dan metode yang ditetapkan akan terimplikasikan pada teknik pembelajaran. Dua orang guru atau lebih dapat saja menggunakan metode pembelajaran yang sama dalam RPP mereka, tetapi akan tetap berbeda dalam teknik pembelajaran di kelas. Dengan perkataan lain, implementasii pembelajaran di kelas atau teknik pembelajaran guru yang satu akan berbeda dengan teknik pembelajaran guru yang lain.  
            Sebagai contoh, dalam RPP yang disusun bersama oleh guru pada kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dengan KD: melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka, metode yang disepakatii adalah inkuiri, tanya jawab, dan penugasan. Dapat dipastikan bahwa dalam praktik pembelajaran di kelas akan terdapat perbedaan antara guru yang satu dan guru yang lain. Inilah yang dikenal sebagai teknik pembelajaran.    
Selanjutnya berkenaan dengan strategi. Dalam konteks pembelajaran, strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil guna. Oleh karena itu, seorang guru dituntut memiliki kemampuan mengatur secara umum komponen-komponen pembelajaran sehingga terjalin keterkaitan fungsi antarkomponen pembelajaran dimaksud. Strategi berarti pilihan pola kegiatan belajar-mengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif. Untuk melaksanakan tugas secara profesional, guru memerlukan wawasan yang mantap tentang kemungkinan-kemungkinan strategi belajar-mengajar yang sesuai dengan tujuan belajar yang telah dirumuskan, baik dalam arti efek instruksional, tujuan belajar yang dirumuskan secara eksplisit dalam proses belajar mengajar, maupun dalam arti efek pengiring misalnya kemampuan berpikir kritis, kreatif, sikap terbuka setelah siswa mengikuti diskusi kelompok kecil dalam proses belajarnya (Sabri, 2007:1) 
            Uno (2008:1) mengemukakan beberapa pendapat para ahli tentang strategi pembelajaran sebagai berikut.
1)    Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang   dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu (Kozna, 1989).
2)    Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran dimaksud meliputi sifat lingkup dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat      memberikan pengalaman belajar peserta didik (Gerlack dan Ely, 1980).
3)    Strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi pembel-     ajaran bukan hanya terbatas prosedur atau tahapan kegiatan belajar, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik (Dick dan Carey, 1990).
4)    Strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan (Groppper, 1990).
            Berdasarkan pendapat-pendapat di atas berkenaan dengan konsep strategi pembelajaran dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya pada akhir pembelajaran (Uno, 2008:2).
            Apabila kita mencermati kembali definisi strategi pembelajaran sebagaimana yang dipaparkan di atas, jelas disebutkan bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan perkataan lain, strategi pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas daripada metode dan teknik. Artinya, metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran.
                Dalam konteks ini, menarik pula untuk disimak uraian yang diberikan oleh Sanjaya (2005:100-1001). Menurutnya, di samping istilah strategi, metode, dan teknik, dalam konteks pembelajaran ada juga istilah model mengajar (models of teaching). Istilah ini dipopulerkan oleh Bruce Joyce dan Marsha Weil, dalam bukunya yang sangat terkenal Models of Teaching (1971). Dalam bukunya itu, Joyce mengupas lebih dari 25 model mengajar yang dikelompokkan dalam 4 kelompok (family), yaitu (1) Kelompok Model Pemrosesan Informasi (The Information Processing Family), (2) Model Pribadi (The Personal Family), (3) Kelompok Sosial (The Social Family), dan (4) Kelompok Model Tingkah Laku (Behavioral Models of Teaching).          
            Jika dilihat dari uraian suatu model mengajar, tampaknya model lebih luas dari suatu strategi. Dalam suatu model mengajar ditentukan bukan hanya apa yang harus dilakukan guru, melainkan menyangkut empat hal pokok, yaitu tahapan-tahapan model, sistem sosial yang diharapkan, prinsip-prinsip reaksi guru dan siswa serta sistem penunjang yang diisyaratkan.
            Terdapat istilah lain yang lebih umum dari sitilah strategi dan model pembelajaran, yaitu istilah pendekatan (approach). Pendekatan memang tidak sama dengan strategi ataupun model. Pendekatan adalah istilah yang diberikan untuk hal yang bersifat lebih umum, dan strategi adalah penjabaran dari pendekatan yang digunakan. Roy Killen (1998), contohnya membedakan istilah pendekatan dengan strategi. Bagi Killen, ada dua pendekatan yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran, yaitu pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa atau teacher-centered approaches dan student-centered approaches. Kemudian Killen merinci berbagai strategi pembelajaran yang termasuk ke dalam kedua pendekatan di atas.
            Uraian di atas menegaskan bahwa proses pembelajaran dapat dimulai dari istilah pendekatan, kemudian dari pendekatan itu dijabarkan pada model pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik dan taktik  (Sanjaya, 2005:100-101).
B.  Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang dibicarakan pada bagian ini tidak sepenuhnya disebut sebagai metode pembelajaran bahasa Indonesia. Artinya, metode-metode tersebut juga dikenal dalam pembelajaran mata pelajaran-mata pelajaran yang lain. Namun, metode-metode tersebut memungkinkan dapat diterapkan dalam rancangan pembelajaran bahasa Indonesia.
  1. Metode Diskusi
Diskusi adalah proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling bertukar ide tentang suatu isu dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah,menjawab suatu pertanyaan, menambah pengetahuan atau pemahaman, atau membuat suatu keputusan. Apabila proses diskusi melibatkan seluruh anggota kelas, pembelajaran dapat  terjadi secara langsung dan bersifat student centered (berpisat pada siswa) Dikatakan pembelajaran langsung karena guru menentukan tujuan yang harus dicapai melalui diskusi, mengontrol aktivitas siswa serta  menentukan fokus dan keberhasilan pembelajaran. Dikatakan berpusat kepada siswa karena sebagian besar input pembelajaran berasal dari siswa, mereka secara aktif aktif dan meningkatkan belajar, serta mereka dapat menemukan hasil diskusi mereka.
  1. Metode Kerja Kelompok Kecil (Small-Group Work)
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kecil merupakan metode yang banyak dianjurkan oleh para pendidik. Metode ini dapat dilakukan untuk mengajarkan materi-materi khusus. Kerja kelompok kecil merupakan metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Siswa dituntut untuk memperoleh pengetahunan sendiri melalui bekerja secara bersama-sama. Tugas guru hanyalah memonitor apa yang dikerjakan siswa. Yang ingin diperolah melalui kerja kelompok adalah kemampuan interaksi sosial, atau kemampuan akademik atau mungkin juga keduanya.
c.    Metode Komunikatif
            Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula, sebuah perintah, pesan, laporan, atau peta, juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil.
Contohnya menyampaikan pesan kepada orang lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan itu dapat dipecah menjadi (a) memahami pesan, (b) mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan keraguan, (c) mengajukan pertanyaan untuk memperoleh lebih banyak informasi, (d) membuat catatan, (e) menyusun catatan secara logis, dan (f) menyampaikan pesan secara lisan. Dengan begitu, untuk materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas komunikasi dapat terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih intensif.
           
d.    Metode Partisipatori
            Metode pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau fasilitator.
            Dalam metode partisipatori siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun, bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai moderator dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama.
e.    Metode Kuantum
            Quantum Learning (QL) merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari metode Freire dari Lozanov. QL mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya belajar dengan mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL. Menurut QL bahwa proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu dapat berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi, serta sejauh mana guru menggubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran maka sejauh itulah proses belajar berlangsung. Hubungan dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan begitu, pembelajar dapat mememori, membaca, menulis, dan membuat peta pikiran dengan cepat.
f.      Metode Konstruktivistik
            Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah bahwa belajar itu menemukan. Meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Konstruktivistik dimulai dari masalah (sering muncul dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.
            Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif, strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
C.  Model Pembelajaran
            Model pembelajaran yang dibahas berikut ini diharapkan dapat menjadi alternatif bagi guru bahasa Indonesia dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Penerapan Model-model tersebut dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat bergantung kepada kreativitas guru, terutama dalam hal mencermati standar isi dan mengaitkannya  denganmodel-model alternatif sehingga menghasilkan model  pembelajaran bahasa Indonesia yang tepat sasaran.
  1. Pengalaman Penting (Critical Incident )
Model ini digunakan untuk memulai pelajaran. Tujuan dan penggunaan model  ini untuk melibatkan siswa sejak awal dengan melihat pengalaman mereka.
Langkah- langkah:
  • Sampaikan kepada siswa topik atau materi yang akan dipelajari.
  • Beri kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk mengingat pengalaman mereka yang tidak terlupakan berkaitan dengan materi yang ada.
  • Tanyakan pengalaman apa yang menurut mereka tidak terlupakan.
  • Sampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan pengalaman siswa dengan materi yang akan disampaikan.
Model ini dapat digunakan dengan maksimal pada mata pealajaran yang bersifat praktis.
  1. Tebak Pelajaran (Prediction Guide)
Strategi ini digunakan untuk melibatkan siswa dalam proses pembelajaran secara aktif dari awal sampai akhir. Melalui strategi ini siswa diharapkan dapat terlibat dalam pelajaran dan tetap mempunyai perhatian ketika guru menyampaikan materi.
Pertama kali siswa diminta untuk menebak apa yang akan muncul dalam topik tertentu. Selama penyampaian materi, siswa dituntut untuk mencocokkan hasil tebakan mereka dengan materi yang disampaikan oleh guru.
Langkah-langkah:
  • Tentukan topik yang akan disampaikan.
  • Bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.
  • Guru meminta siswa untuk menebak apa saja yang kira-kira akan mereka dapatkan dalam pelajaran.
  • Siswa diminta untuk membuat perkiraan itu di dalam kelompok kecil.
  • Sampaikan materi pelajaran secara interaktif.
  • Selama proses pembelajaran siswa diminta untuk mengidentifikasi tebakan mereka yang sesuai dengan materi yang disampaikan.
  • Pada akhir pelajaran, tanyakan berapa jumlah tebakan mereka yang benar.
Model ini dapat diterapkan pada hampir semua mata pelajaran. Kelas akan menjadi dinamis jika diadakan kompetisi antarkelompok untuk mencari kelompok dengan prediksi yang paling banyak benarnya.
  1. Menilai Kelas (Assessment Search)
Model ini dapat dilakukan dalam waktu yang cepat dan sekaligus melibatkan siswa untuk saling mengenal dan bekerja sama.
Langkah-langkah:
(1)  Buatlah tiga atau empat pertanyaan untuk mengetahui kondisi kelas, pertanyaan itu dapat berupa:
·         Pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran.
·         Sikap mereka terhadap materi
·         Pengalaman mereka yang ada hubungannya dengan materi
·         Keterampilan yang telah mereka peroleh
·         Latar belakang mereka
·         Harapan yang ingin didapat siswa dari mata pelajaran ini
(2)   Tulislah pertanyaan tersebut sehingga dapat dijawab secara kongkret. Contohnya: Apa yang Anda ketahui tentang.................?
(3)   Bagi siswa menjadi kelompok kecil. Beri masing-masing siswa satu pertanyaan dan minta masing-masing untuk menginterview teman satu grup untuk mendapatkan jawaban dari mereka.
(4)   Pastikan bahwa setiap siswa mempunyai pertanyaan sesuai dengan bagiannya. Dengan demikian, jika jumlah siswa adalah 18, yang dibagi menjadi tiga kelompok, akan ada 6 orang yang mempunyai pertanyaan yang sama.
(5)   Mintalah masing-masing kelompok untuk menyeleksi dan meringkas data dari hasil interview yang telah dilakukan.
(6)   Minta masing-masing kelompok untuk melaporkan hasil dari apa yang telah mereka pelajari dari temannya ke kelas.
Catatan:
  • Siswa dapat diminta untuk membuat pertanyaan sendiri.
  • Dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, dan membuat mereka berpasangan dan menginterview pasangannya secara bergantian.
  • Minta mereka melaporkan hasilnya ke kelas (variasi ini cocok dalam kelas besar).
d. Model Pembelajaran pada Aspek Menyimak
1.  Pertanyaan dari Siswa (Questions Students Have)
Model ini dapat memotivasi siswa untuk dapat melatih keterampilan mendengarkan. Belajar membuat pertanyaan dan menganalisis pertanyaan tersebut dari tingkat kepentingannya untuk dibahas dalam kelas.
Langkah-langkah:
  • Guru mengondisikan siswa dalam kelas untuk siap dalam pelajaran boleh dengan bernyanyi atau bertepuk tangan
  • Guru menginformasikan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai
  • Guru membagi siswa menjadi dua kelompok besar
  • Guru menyajikan simulasi wawancara atau rekaman dari radio/TV atau menonton tayangan TV.
  • Siswa mendengar dan mencatat hal-hal penting
  • Setiap siswa  menuliskan soal yang berkaitan dengan materi pelajaran (tidak perlu menuliskan nama).
  • Setelah semua selesai membuat pertanyaan masing-masing diminta untuk memberikan kertas yang berisi pertanyaan kepada teman di samping kirinya. Dalam hal ini, jika posisi duduk siswa adalah lingkaran, akan terjadi gerakan perputaran kertas searah jarum jam. Jika posisi duduk mereka berderet sesuai dengan posisi mereka asalkan semua siswa dapat giliran untuk membaca semua pertanyaan dari teman-temannya.
  • Pada saat menerima kertas dari teman di sampingnya, siswa diminta untuk membaca pertanyaan yang ada. Jika pertanyaan itu juga ingin dia ketahui jawabannya, maka dia harus memberi tanda centang, jika tidak ingin diketahui atau tidak menarik, berikan langsung pada teman di samping kiri. Dan begitu seterusnya sampai semua soal kembali kepada pemiliknya,
  • Ketika kertas pertanyaan tadi kembali kepada pemiliknya, siswa diminta untuk menghitung tanda centang yang ada pada kertasnya. Pada saat ini carilah pertanyaan yang mendapat tanda centang paling banyak.
  • Siswa bersama Guru menjawab/membahas soal yang paling banyak ceklisnya. Bisa  kelompok A menjawab kelompok B atau sebaliknya.
  • Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran.


2. Snow Ball Throwing (Lemparan Bola Salju)
            model ini dapat memotivasi siswa belajar dalam mengembangkan pikirannya melalui kertas-kertas (HVS warna yang jumlahnya tergantung kebutuhan) sebagai media untuk menuangkan gagasan sesuai instruksi guru.
Langkah-Langkah
  • Guru membuka pelajaran dengan apersepsi
  • Guru menginformasikan tujuan pembelajaran
  • Siswa mendengarkan teks berita yang diperdengarkan oleh guru
  • Siswa mencatat hal-hal yang pentingmengenai pokok isi berita yang didengar
  • Guru menyediakan kertas yang berisi pertanyaan sebagai bola salju
  • Guru melemparkan bola dan siswa menjawab dan menulis nama pada bola salju
  • Guru mengumpulkan bola dan membacakan jawaban siswa
  • Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran
3. Model A B C Games
            Model ABC Games dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan aktif dan menyenangkan. Siswa diajak berlomba menemukan jawaban secara mandiri dan secara bersama-sama.
Langkah-Langkah
  • Guru mengkondisikan kelas dengan tebak-tebakan yang lucu
  • Guru menginformasikan tujuan pembelajaran Contoh Mampu menganalisis laporan perjalanan
  • Guru membagi siswa menjadi 3 kelompok (A, B, C) dan mintalah masing-masing kelompok memberi  nama kelompoknya
  • Guru memperdengarkan teks laporan perjalanan. Siswa mencatat hal-hal penting
  • Setiap kelompok menyiapkan anggotanya untuk mengikuti games
  • Guru menyiapkan pertanyaan yang ditulis pada kartu
  •  Guru meminta siswa yang mewakili kelompok untuk maju ke depan kelas. Guru menyiapkan flipchard atau papan tulis yang akan digunakan siswa menulis jawaban
  • Guru memperlihatkan soal kepada siswa. Soal belum bias diperlihatkan pada siswa lainnya
  • Siswa yang mengikuti lomba harus menjawab soal sendiri dan tidak bias dibantu kelompoknya. Kalu tidak bias menjawab baru minta bbantuan pada kelompoknya
  • Soal selanjutnya digantikan oleh siswa yang lain
  • Guru menilai jawaban siswa
  • Guru menyimpulkan materi pembelajaran 
4. Get A Star (Raihlah Bintang)
            model ini memotivasi siswa untuk mengembangkan kompetensi baik secara perorangan ataupun kelompok. Tiap siswa dalam kelompok dapat menjawab kuis dan meraih skor sebanyak-banyaknya untuk kemenangan kelompok.
Langkah-Langkah
  • Guru membuka pembelajaran (menyanyikan Lagu)
  • Menginformasikan tujuan/kompetensi pembelajaran. Contoh menyimpulkan isi informasi yang didengan melalui tuturan tidak langsung (rekaman atau teks yang dibacakan)
  • Guru membentuk kelompok sesuai kondisi kelas dan member nama
  • Guru memperdengarkan teks dan siswa mencatat hal-hal penting
  • Setiap kelompok membuat pertanyaan (banyaknya soal teegantung kondisi dan waktu dalam kelas) setiap pertanyaan ditulis di kertas dan disimpan dalam kotak
  • Guru membacakan soal dan siswa berlomba menjawab untuk kemenangan kelompoknya
  • Guru member symbol bintang pada kelompok setiap jawaban yang benar
  • Pada akhir pelajaran guru memberikan nilai dan reward
  • Guru dan siswa merefleksi materi pembelajaran

       e. Model Pembelajaran pada Aspek Berbicara
1. Debat Aktif (Active Debate)
Debat bisa menjadi satu model berharga yang dapat mendorong pemikiran dan perenungan terutama kalau siswa diharapkan dapat mempertahankan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan mereka sendiri. Ini merupakan strategi yang secara aktif melibatkan semua siswa di dalam kelas bukan hanya pelaku debatnya saja.
Langkah-Langkah
  • Guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan tujuan/kompetensi  pembelajaran. Contoh setelah pembelajaran siswa mampu menyampaikan persetujuan, sanggahan, dan penolakan pendapat dalam diskusi
  • Siswa dibagi dua kelompok yaitu kelompok pro dan kelompok kontra, setiap kelompok dibagi lagi menjadi 3-4 kelompok. Memilih salah satu anggota sebagai ketua
  • Guru menginformasikan masalah yang kontroversial yang akan dibahas
Contoh masalah
1.      pemerintah melalui aparatnya sudah seharusnya merazia tempat tertentu seperti warnet dan tempat-tempat hiburan pada saat jam pelajaran sekolah
2.      sebaiknya dibuat UU anti merokok di tempat umum
3.      anggota DPR seharusnya diberi tambahan gaji agar kinerjanya bertambah baik
  • setiap kelompok berdiskusi untuk mengembangkan argumen
  • moderator (Siswa) memimpin debat
  • setiap juru bicara kelompok pro dan kontra  mempresentasikan argumennya
  • selama pembelajaran guru melaksanakan penilaian
2. Setiap Orang Adalah Guru (Everyone Is A Teacher Here)
Model ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Model ini memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawan-kawannya.
Dengan model ini, siswa yang selama ini tidak mau terlibatkan, akan ‘terpaksa’ ikut serta dalam pembelajaran secara aktif.
Langkah-langkah:
  • Guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan tujuan/topic pembelajaran. Contoh pemberantasan korupsi
  •  Bagikan secarik kertas kepada seluruh siswa. Setiap siswa diminta untuk menuliskan satu pertanyaan tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di kelas.
  • Kumpulkan kertas, acak kertas tersebut kemudian bagikan kepada setiap siswa. Pastikan bahwa tidak ada siswa yang menerima soal yang ditulis sendiri. Minta mereka untuk membaca dalam hati pertanyaan dalam kertas tersebut kemudian memikirkan jawabannya.
  • Minta siswa secara sukarela untuk membacakan pertanyaan tersebut dan menjawabnya.
  • Setelah jawaban diberikan, mintalah siswa lainnya untuk menambahkan.
  • Lanjutkan dengan sukarelawan berikutnya.
3. Time Token (Kartu Bicara)
            Model ini efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa secara perorangan. Guru sebagai motifator harus mempunyai energy yang mampu memotivasi siswa mengungkapkan pendapat, saran dan tanggapan secara aktif, dinamis dan dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-Langkah
  • .guru membuka pelajaran dengan apersepsi
  • Guru menginformasikan tujuan/kompetensi  pembelajaran
  • Siswa masing-masing diberi 3 kartu bicara (lamanya bicara dan banyaknya kartu bicara bias disesuaikan)
  • Siswa diberi stimulasi berupa cerita yang berisi masalah
  • Setiap siswa secara bergantian member pendapat secara lisan berupa persetujuan, sanggahan, dan penolakan disertai dengan alas an. Siswa yang telah bicara diambil kartunya ditukar dengan nilai.
  • Siswa dan guru bersama-sama menyimpulkan pembelajaran.

            f. Model Pembelajaran pada Aspek Membaca
1.  Jigsaw Learning (Belajar Model Jigsaw)
Model ini merupakan model yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan model ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkannya kepada orang lain.
Langkah-langkah:
  • Pilihlah materi pelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian (segmen).
  • Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa adalah 50 sementara jumlah segmen ada 5, maka masing-masing kelompok terdiri atas 10 orang. Jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua sehingga setiap kelompok terdiri dan 5 orang, kemudian setelah proses telah selesai gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut
  • Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda-beda
  • Setiap kelompok mengirimkan anggota-anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajani di kelompok.
  • Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
  • Sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi   
2. Index Card Match (Mencari Pasangan)
            Model ini digunakan pada keterampilan membaca dengan dengan memasangkan kartu-kartu. Peserta didik sebelumnya ditugaskan membaca tau mempelajari topik terntu.
Langkah-Langkah
  • Guru membuka pembelajaran dengan menyampaikan tujuan/kompetensi pembelajaran
  • Guru menentukan topik sesuai KD
  • Siswa membaca teks bacaan yang telah disiapkan
  • Guru menyiapkan kartu sebanyak jumlah siswa setengahnya pertanyaan dan setengahnya jawaban
  • Siswa mendapat kartu secara acak dan setiap siswa mencari pasangan kartunya
  • Setelah menemukan pasangannya siswa menjelaskan makna yang ada dalam kartu
  • Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran
  • Siswa merangkum materi dalam buku tugas.
3. Card Sort (Kartu Sortir)
            Model ini bagian dari pembelajaran kooperatif dimana siswa bergerak secara aktif dan dinamis mencari pasangan kartu.
Langkah-Langkah
  • Guru membuka pelajaran dengan menginformasikan tujuan/kompetensi pembelajatan
  • Guru menyiapkan kartu sebanyak siswa sesuai kategori
  • Guru meminta siswa mempelajari teks bacaan yang berkaitan KD ensiklopedia.
  • Guru membagikan kartu kepada siswa dan siswa mencari kelompok dengan  kategori yang sama
  • Siswa yang sudah berkumpul dengan kelompoknya diminta mendiskusikan dan menempel kartu pada kertas
  • Siswa memajang dan mempresentasikan hasil kelompoknya dan kelompok lain memberikan komentar
  • Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran
  • Siswa membuat rangkuman hasil pembelajaran

           g.  Model Pembelajaran pada Aspek Menulis
1. Galeri (Pameran)
            hasil karya siswa berupa tulisan di pamerkan di dinding kelas seperti layaknya pameran.
Langkah-Langkah
  • Guru membika pelajaran dengan lagu berbentuk pantun
  • Guru menginformasikan tujuan pembelajaran
  • Siswa dibagi kelompok
  • Siswa berdiskusi dan membahas contoh pantun yang diberikan contoh apakah pantun itu,macam-macam pantun, dan syarat-syarat pantun
  • Siswa menulis pantun dengan kreatif pada kertas berwarna dan diberi identitas kelompok
  • Siswa memamerkan hasil karyanya layaknya pameran
  • Guru dan siswa mengunjungi stand pameran untuk menilai pantun
  • Guru dan siswa merefleksi pembelajaran
2. Compelete Sinteses (Melengkapi Paragraf)
            model ini bertujuan memotivasi siswa untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan dengan melengkapi paragraf yang sudah tersedia dengan kalimat-kalimat yang tepat.
Langkah-Langkah
  • Guru membuka pelajaran dengan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran
  • Siswa dibagi kelompok dan memberikan nama kelompoknya masing-masing
  • Setiap kelompok diberikan teks paragraf yang berbeda untuk didiskusikan dan mengisi paragraf yang rumpang
  • Setiap kelompok menulis hasil kerjanya pada flipchart atau kalender bekas dan memasang hasil karya tersebut  pada dinding kelas
  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil karyanya
  • Guru dan siswa mengoreksi hasil kerja kelompok dan menilai
  • Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran.
3. Go To Your Post (Bergerak ke Arah yang Dipilih)
            Model ini memotifasi siswa untuk mengembangkan keterampilan menulis berdasarkan pilihan topiknya
Langkah-Langkah
  • Guru membuka pelajaran dengan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran
  • Guru menempel kertas warna yang berisi topik tentang ilmu pengetahuan populer pada dinding kelas
  • Siswa bergerak dan berdiri ke arah topik yang dipilihnya
  • Setelah siswa berkelompok sesuai dengan topik yang dipilih  siswa berdiskusi tentang hal yang akan dikembangkan menjadi tulisan sesuai dengan topik
  • Siswa kembali duduk secara berkelompok untuk membuat kerangka tulisan dan mengembangkan menjadi sebuah wacana
  • Siswa menulis hasil karyanya dan menempelkan pada diding kelas
  • Guru menilai hasil karya siswa dan memberikan penghargaan bagi karya yang baik
  • Guru dan siswa merefleksi pembelajaran.

















BAB III
PENUTUP
           
            Istilah pendekatan, metode, dan teknik dalam pembelajaran sering dikacaukan pengertiannya dan sering pula digunakan untuk mengacu pada makna yang sama. Istilah pendekatan, metode, dan teknik pada dasarnya memiliki perbedaan antara satu dan yang lain. Pendekatan bersifat aksiomatis, metode bersifat prosedural, sedangkan teknik bersifat implementasional. Di sisi lain terdapat istilah strategi. Strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai dan berhasil guna. Strategi berarti pilihan pola kegiatan belajar-mengajar yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif.
Terdapat sejumlah model pembelajaran yang dapat dijadikan se-bagai alternatif oleh guru bahasa Indonesia dalam pembelajaran di kelas. Model-model tersebut meliputi model pembelajaran keterampilan mendengarkan, model pembelajaran keterampilan menulis, model pembelajaran keterampilan membaca, dan model pembelajaran keterampilan berbicara. Pengaplikasian model - model tersebut di kelas harus disesuaikan dengan standar isi mata pelajaran.     
DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, Teuku. 2009.  Bahan Ajar Kuliah Strategi Belajar-Mengajar
Bahasa dan Sastra Indonesia.  Digunakan sebagai Materi Kuliah
SBM pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP Unsyiah. Tidak Diterbitkan.  
Berdiati, Ika. 2010. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis PAKEM. Bandung; SEGA ARSY
Hernowo. 2005. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar dengan      Menggunakan Pendekatan Kontekstual. Bandung: MLC.
Majid, Abdul. 2005. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar
              Kompetensi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, Wina. 2005. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Ber-basis Kompetensi. Jakarta: Kencana. 
Sabri, Ahmad. 2007. Strategi Belajar-Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum Teaching.
Uno, Hamzah B. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar-Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.






  

























1 komentar:

  1. ka reverensi buku untuk model pembelajaran get a star itu buku apa? mohon jawabannya.

    BalasHapus